Jumat, 26 September 2014
OBYEK
Subyek dan Obyek.
Sebuah kalimat yang benar dan jelas haruslah memiliki subyek dan obyek.
Kalimat yang mengandung subyek tapi tidak ada obyeknya maka kalimat tersebut tidak akan jelas maknanya. demikian pula sebaliknya, kalimat tanpa subyek meskipun mengandung obyek kejelasan maknanya tidak ada.
Dosen ada karena memiliki mahasiswa, Penguasa ada karena rakyat mendukungnya, Seorang dikatakan kaya karena ada orang miskin sebagai pembandingya, Modern karena ada tradisonal sebagai yang dahulu.dan masi begitu banyak lagi hubungan antara subyek dan obyek.
Wahai subyekku, sungguh hebatlah engkau itu. Sungguh perkasalah engkau di situ. Sungguh digdayalah engkau di situ. Sungguh besarlah engkau di situ. Sungguh tinggilah engkau di situ. Sungguh kuasalah engkau di situ. Sungguh dominannya engkau di situ. Sungguh rapatlah engkau di situ. Sungguh solidlah engkau di situ. Sungguh tegarlah engkau di situ. Sungguh menentukanlah engkau di situ. Tetapi juga sungguh menakutkanlah engkau di situ. Janganlah engkau bergerak atau berucap. Engkau di situ terdiam saja aku sungguh takut terhadap dirimu. Aku merasa lemah di dekat dirimu. Aku merasa kecil di dekat dirimu. Aku merasa rendah di dekat dirimu. Aku merasa tertutup di dekat dirimu. Aku merasa kacau dan berantakan di dekat dirimu. Aku merada ciut nyaliku di dekat dirimu. Aku merasa tidak dapat berbuat apa-apa di dekat dirimu. Itulah kesaksianku bahwa sebenar-benar dirimu adalah determinis bagiku. Sebenar-benar dirimu adalah subyek bagi diriku. Sedangkan sebenar-benar diriku adalah obyek bagimu(Prof. Marsigit)
Dari ilustrasi tersebut saya rasa kita bisa melihat bagaimana hubungan saling melengkapi antara subyek dan obyek.
Seseorang tidak bisa mengaku sebagai mahasiswa sejati jika belum pernah belajar dari seorang dosen, atau setidaknya belum pernah melihat mana yang dimaksud dengan dosen. demikian juga jika belum pernah mengajar mahasiswa maka seseorang tidak dapat mengklaim dirinya sebagai dosen sejati.
Karena itulah menurut saya tidak perlu ada kesedihan dari para obyek, karena tanpa adanya obyek maka mereka tidak dapat berbuat apa-apa, demikian juga dengan para Subyek tidak perlu merasa penting dan berkuasa atas obyeknya, karena jika obyek tidak ada maka subyek hanyalah Hampa semata.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar