Jumat, 26 September 2014

Budak dan Memperbudak

Menggunakan cara mudah untuk mencapai sesuatu yang sulit merupakan hal yang tidak mudah untuk ditolak oleh manusia.

Menurut saya sebenarnya bukan orang lain yang memperbudak kita, namun kita sendirilah yang memperbudak diri kita sendiri.
Ketika kita menginginkan sesuatu yang sulit namun berharap mencapainya dengan mudah maka pada saat itulah kita memperbudak kemampuan kita, kita mengurung, kita memasung kemampuan.

Kemalasan, kesenangan, kekuasaan itulah sebenarnya yang memperbudak kita.

Jadi jalanilah hidup dengan damai maka tidak ada hal apapun yan g dapat memperbudakmu
Damai itu indah, tidak ada nafsu, tidak ada keserakahan, tidak ada dendam, maka tenanglah jiwa dan raga.

Gotong royong adalah bentuk lama dan sudah digantikan dengan arisan, bahkan arisan mobil. Menabung adalah bentuk lama, bentuk barunya adalah kredit kendaraan. Berkunjung digantikan dengan sms. Kerjasama berubah menjadi kolusi. Ikhlas berdoa berganti dengan berdoa via pulsa. Tenaga kerja manusia diganti dengan tenaga robot. Kebenaran diganti dengan kesepakatan. Kasus besar dialihkan dengan kasus besar lainnya. Pertunjukan wayang semalam suntuk diganti dengan pertunjukan wayang dua jam. Yang penting bisa berkumpul diganti yang penting bisa makan. Mengusir penjajah diganti dengan menjajah bangsa sendiri. Peraturan diganti dengan pendekatan. Haram diubah menjadi halal. Asli diganti asli tetapi palsu. Pendingin es diganti borax atau formalin. Tuntunan diubah menjadi tontonan. Lokal diganti import. Ekspor barang diganti ekspor manusia. Tarian sakral diubah untuk tarian ngamen. Benar diganti dengan yang salah. Salah dibenarkan. Ranah hukum diganti ranah politik. Jelas diganti dengan yang kabur. Dst...(Prof. Marsigit)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar