Implementasi Strategi
Pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning) Untuk Menghasilkan Pembelajaran
Matematika Yang Bermakna
Markus Palobo1 , Juhrina A.Y2 ,Noviana Serawati3
Magister Pendidikan Matematika Program
Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta
ABSTRAK
Salah satu
masalah yang dihadapi
dalam pembelajaran matematika
adalah siswa kurang didorong untuk
mengembangkan dan menerapkan
konsep-konsep yang dipelajarinya
ke dalam menyelesaikan masalah
kehidupan mereka. Proses
pembelajaran lebih banyak
diarahkan kepada kemampuan untuk
menghafal informasi. Akibatnya,
ketika siswa lulus
sekolah, mereka hanya paham teori secara konseptual tanpa
memahami makna kontekstualnya. Strategi
pembelajaran CTL (contextual teaching
and learning), menawarkan
bentuk pembelajaran yang
melibatkan siswa secara
aktif dalam proses pembelajaran. Strategi
CTL merupakan suatu konsep pembelajaran yang mengaitkan antara materi
pelajaran dengan situasi dunia nyata siswa melalui proses berpengalaman
secara langsung. Dengan
demikian, melalui proses
berpengalaman secara langsung
diharapkan perkembangan siswa
terjadi secara utuh meliputi aspek kognitif,
afektif, dan psikomotor, sehingga pembelajaran lebih
bermakna. Komponen utama dalam Strategi
pembelajaran CTL yakni kontuktivisme,
inquri, questioning, learning community, modelling, reflection dan authentic assessment. Dengan terciptanya pembelajaran matematika
yang bermakna maka akan berpengaruh terhadap Minat dan Pemahaman Konsep
Matematika. Melalui pembelajaran CTL Minat Belajar dan pemahaman konsep
Matematika peserta didik akan meningkat.
Kata Kunci : Contextual
Teaching and Learning, Pembelajaran Bermakna, Minat, Pemahaman Konsep
PENDAHULUAN
Matematika
dalam proses pembelajarannya terkadang lebih sering mengutamakan pada tuntutan
siswa untuk menghafal informasi. Siswa
tidak dituntun untuk mengembangkan dan menerapkan konsep yang dipelajarainya
dalam hal penyelasaian masalah-masalah yang berkaitan dengan kehidupan
siswa.hal ini bisa menjadi masalah karena metode seperti ini dapat
mengakibatkan siswa hanya memahami teori matematika secara konseptual saja,
namun tidak memahami makna secara kontekstualnya.
Dewasa ini ada
kecenderungan untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik
jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak
mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang
beriorentasi pada penugasan materi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat jangka pendek
tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka
panjang.
Untuk masalah diatas maka diberikan suatu solusi untuk
menciptakan pemahaman siswa tentang matematika bukan hanya dari segi konseptual
tetapi juga dari segi kontekstualnya. Strategi
pembelajaran CTL bisa menjadi alternatif pembelajaran yang dapat
diterapkan oleh pendidik untuk mengatasi masalah tersebut.CTL
merupakan suatu konsep pembelajaran yang mengaitkan antara materi pelajaran
dengan situasi dunia nyata siswa melalui proses berpengalaman secara langsung.
Dengan demikian, melalui
proses berpengalaman secara
langsung diharapkan perkembangan
siswa terjadi secara utuh sehingga pembelajaran
menjadi lebih
bermakna.
PEMBAHASAN
A.
Strategi Pembelajaran
Contextual Teaching and Learning
Menurut Wina Sanjaya(2006 : 255) Contextual Teaching and Learning (CTL)
adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan pada proses keterlibatan
siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan
menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk
dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.
1.
Latar
Belakang Filosofis
CTL
banyak dipengaruhi oleh filsafat kontruktivisme yang mulai digagas oleh Mark
Baldwin dan selanjutnya dikembangkan oleh Jean Peaget. Piaget berpendapat
bahwa, sejak kecil setiap anak sudah memiliki struktur kognitif yang kemudian
dinamakan “skema”. Skema terbentuk karena pengalaman. Proses penyempurnaan
skema dilakukan melalui proses asimilasi dan akomodasi.
Pandangan
Piaget tentang bagaimana sebenarnya pengetahuan itu terbentuk dalam struktur
kognitif anak, sangat berpengaruh terhadap beberapa model pembelajaran
diantaranya model pembelajaran kontekstual. Menurut pembelajaran kontekstual,
pengetahuan itu akan bermakna manakala ditemukan dan dibangun sendiri oleh
siswa. Pengetahuan yang diperoleh dari hasil pemberian orang lain, tidak akan
menjadi pengetahuan yang bermakna. Pengetahuan yang demikian akan mudah
dilupakan dan tidak fungsional. (Wina sanjaya, 2006: 256-259).
2.
Latar
Belakang Psikologis
Pendekatan
kontekstual mendasarkan diri pada kecenderungan pemikiran tentang belajar
diantaranya: proses belajar, transfer belajar, siswa sebagai pembelajar dan
pentingnya lingkungan belajar. Hakikat pembelajaran kontekstual mendorong siswa
membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam
kehidupan sehari-hari.
3.
Komponen
CTL
Beberapa komponen utama
dalam pembelajaran Kontekstual menurut Johnson (2000:
65), yang dapat di uraikan sebagai berikut ;
a) Melakukan
hubungan yang bermakna (making meaningful connections) Keterkaitan yang
mengarah pada makna adalah jantung dari pembelajaran dan pengajaran
kontekstual. Ketika siswa dapat mengkaitkan isi dari mata pelajaran akademik,
ilmu pengetahuan alam,atau
sejarah dengan pengalamannya mereka sendiri, mereka menemukan makna, dan makna
memberi mereka alasan untuk belajar. Mengkaitkan pembelajaran dengan kehidupan
seseorang membuat proses belajar menjadi hidup dan keterkaitan inilah inti dari
CTL.
b) Melakukan
kegiatan-kegiatan yang berarti (doing significant works) Model pembelajaran ini
menekankan bahwa semua proses pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas harus
punya arti bagi siswa sehingga mereka dapat mengkaitkan materi pelajaran dengan
kehidupan siswa.
c) Belajar
yang diatur sendiri (self-regulated Learning) Pembelajaran yang diatur sendiri,
merupakan pembelajaran yang aktif, mandiri, melibatkan kegiatan menghubungkan
masalah ilmu dengan kehidupan sehari-hari dengan cara-cara yang berarti bagi
siswa. Pembelajaran yang diatur siswa sendiri, memberi kebebasan kepada siswa
menggunakan gaya belajarnya sendiri.
d) Bekerjasama
(collaborating) Siswa dapat bekerja sama. Guru membantu siswa bekerja secara
efektif dalam kelompok, membantu siswa bekerja secara efektif dalam kelompok,
membantu mereka memahami bagaimana mereka saling mempengaruhi dan saling
berkomunikasi.
e) Berpikir
kritis dan kreatif (critical dan creative thinking) Pembelajaran kontekstual
membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir tahap tinggi, nerpikir kritis
dan berpikir kreatif. Berpikir kritis adalah suatu kecakapan nalar secara
teratur, kecakapan sistematis dalam menilai, memecahkan masalah menarik
keputusan, memberi keyakinan, menganalisis asumsi dan pencarian ilmiah.
Berpikir kreatif adalah suatu kegiatan mental untuk meningkatkan kemurnian,
ketajaman pemahaman dalam mengembangkan sesuatu.
f) Mengasuh
atau memelihara pribadi siswa (nuturing the individual) Dalam pembelajaran
kontekstual siswa bukan hanya mengembangkan kemampuan-kemampuan intelektual dan
keterampilan, tetapi juga aspek-aspek kepribadian: integritas pribadi, sikap,
minat, tanggung jawab, disiplin, motif berprestasi, dsb. Guru dalam
pembelajaran kontekstual juga berperan sebagai konselor, dan mentor. Tugas dan
kegiatan yang akan dilakukan siswa harus sesuai dengan minat, kebutuhan dan
kemampuannya.
g) Mencapai
standar yang tinggi (reaching high standards) Pembelajaran kontekstual
diarahkan agar siswa berkembang secara optimal, mencapai keunggulan
(excellent). Tiap siswa bisa mencapai keunggulan, asalkan dia dibantu oleh gurunya
dalam menemukan potensi dan kekuatannya.
h) Menggunakan
Penilaian yang otentik (using authentic assessment) Penilaian autentik
menantang para siswa untuk menerapkan informasi dan keterampilan akademik baru
dalam situasi nyata untuk tujuan tertentu. Penilaian autentik merupakan
antitesis dari ujian stanar, penilaian autentik memberi kesempatan kepada siswa
untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka sambil mempertunjukkan apa yang
sudah mereka pelajari. (www.m-edukasi.web.id/2011/12/pengertian-pembelajaran-kontekstual-ctl )
B.
Penerapan Pembelajaran Contextual Teaching and Learning
Wina
Sanjaya (2006 : 262) menyatakan dalam proses pembelajaran kontekstual, setiap
guru perlu memahami tipe belajar dalam dunia siswa, artinya guru perlu menyesuaikan
gaya mengajar terhadap gaya belajar siswa.Dalam proses pembelajaran
konvensional, hal ini sering terlupakan sehingga proses pembelajaran tak
ubahnya sebagai proses pemaksaan
kehendak, yang menurut Paulo Fierra sebagai suatu sistem penindasan.
Sehubungan dengan hal itu, terdapat beberapa
hal yang harus diperhatikan bagi setiap guru manakala menggunakan pendekatan
CTL.
a) Siswa
dalam pembelajaran kontekstual dipandang sebagai individu yang sedang
berkembang. Kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat
perkembangan dan keluasan pengalaman yang dimilikinya. Karena itu guru berperan
sebagai pembimbing siswa agar mereka bisa belajar sesuai dengan tahap
perkembangannya.
b) Setiap
anak memiliki kecenderungan untuk belajar hal-hal yang baru dan penuh
tantangan. Kegemaran anak adalah mencoba hal-hal yang dianggap aneh dan baru.
Dengan demikian guru berperan dalam memilih bahan-bahan belajar yang dianggap
penting untuk dipelajari siswa.
c) Guru
membantu agar setiap siswa mampu menemukan keterkaitan antara pengalaman baru
dengan pengalaman sebelumnya.
d) Guru
berperan memfasilitasi agar siswa mampu melaksanakan proses asimilasi dan
proses akomodasi.
CTL Dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang
studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan CTL dalam
kelas cukup mudah. Menurut Zainal (2013 : 6) Penerapan
Pendekatan Kontekstual dapat dilaksanakan
dengan tahapan-tahapan sebagai berikut : a)Kembangkan
pikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan
mengkonstruksikan sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya; b)Laksanakan sejauh
mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topic;
c)Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya; d)Ciptakan masyarakat
belajar; e)Hadirkan model sebagai
contok pembelajaran; f)Lakukan
refleksi diakhir pertemuan; g)Lakukan
penilaian yang sebenarnya dengan berbagai
cara
C.
Minat Belajar
Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan
mengenang beberapa kegiatan.
Kegiatan yang diminati
seseorang, diperhatikan terus menerus yang disertai rasa senang.
(Slameto, 2003).
Dalam
CTL guru mengaitkan pembelajaran dengan pengalaman siswa, sehingga siswa
merasakan sendiri ilmu yang dipelajari tersebut. Selain itu dengan mengetahui
pemamfaatan dari setiap materi yang dapat diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari, maka siswa memilki kemauan yang bersumber dari dalam diri siswa
sendiri untuk mempelajari materi tersebut bukan karena paksaan guru namun
karena menguntungkan bagi siswa.
Theofilus
Fautngilyaan dalam thesisnya tentang Perbandingan
keefektifan pembelajaran matematika dengan pendekatan kontekstual dan
pembelajaran dengan penemuan terbimbing di SMA Negeri 1 TUAL- Maluku dimana diperoleh bahwa dengan pendekatan kontekstual diperoleh aspek
minat siswa memiliki rata-rata 75,65 lebih
efektif dibandingkan pendekatan penemuan
terbimbing yakni rata-rata 74,43.
Hal
ini sesuai dengan pernyataan johnson bahwa ketika
siswa dapat mengkaitkan isi dari mata pelajaran akademik, ilmu pengetahuan alam,atau sejarah dengan
pengalaman mereka sendiri, mereka menemukan makna, dan makna memberi mereka
alasan untuk belajar.
Hal
tersebut semakin didukung oleh Daryono dalam Thesisnya yang berjudul Upaya peningkatan hasil belajar
matematika di MAN Kabupaten Sleman dengan pendekatan pembelajaran kontekstual. Hasilnya menunjukkan pendekatan
kontekstual yang menerapkan sepuluh komponen CTL dapat meningkatkan aspek
afektif (Aktivitas dan minat)
maupun kognitif setelah dilakukan dengan dua siklus.
Astuti(2010)
Penelitian mengenai hubungan antara persepsi terhadap pembelajaran kontekstual
dengan minat belajar matematika pada siswa kelas tujuh SMP Negeri 18 Semarang
menunjukkan hasil koefisien korelasi rxy= 0,772 dan tingkat signifikansi
korelasi p=0,000 (p<0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi
terhadap pembelajaran kontekstual merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi
minat belajar matematika siswa kelas tujuh SMP Negeri 18 Semarang. Sumbangan
efektif yang diberikan oleh persepsi terhadap pembelajaran kontekstual pada
minat belajar matematika adalah sebesar 59,6%. Nilai 59,6% diketahui dari R
square hasil pengolahan data penelitian sebesar 0,596, artinya variabel
persepsi terhadap pembelajaran kontekstual mempengaruhi minat belajar
matematika sebesar 59,6%, sedangkan 40,4% dipengaruhi oleh faktor -faktor lain
yang tidak diungkap dalam penelitian ini.
D.
Pemahaman Konsep
Pemahaman konsep merupakan proses belajar mental yang lebih tinggi untuk menentukan apa inti dari setiap hal yang dipelajari untuk membantu
menyederhanakan dan meringkas
informasi yang didapat,
sehingga membantu proses mengingat lebih
efisien.
Menurut
NCTM (2000), untuk mencapai pemahaman yang bermakna maka pembelajaran
matematika harus diarahkan pada pengembangan kemampuan koneksi matematika antar
berbagai ide, memahami bagaimana ide-ide matematika saling terkait satu sama lain sehingga terbangun pemahaman
menyeluruh, dan menggunakan matematik dalam konteks di luar matematika.
Permendiknas 22. Tahun (2006: 345)
mengatakan bahwa dalam setiap kesempatan, pembelajaran matematika hendaknya
dimulai dengan pengenalan
masalah yang sesuai
dengan situasi (contextual problem).
Dengan mengajukan masalah
kontekstual, peserta didik secara
bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika.
Dalam strategi
pembelajaran CTL, siswa bertanggung jawab dalam memonitor dan mengembangkan
pembelajaran mereka masing-masing (sanjaya, 2006 : 262). Guru
berperan memfasilitasi agar siswa mampu melaksanakan proses asimilasi dan
proses akomodasi.
Penggunaan model yang sering dijumpai siswa dalam kehidupan sehari-hari dalam
pembelajaran CTL memberikan pemahaman konsep bagi siswa tentang materi yang
yang dipelajari.
Penelitian heryani
(2014 ) tentang penerapan
pendekatan CTL dalam pembelajaran matematika untuk meningkatkan
pemahaman konsep siswa pada materi volume bangun ruang,diperoleh bahwa Pemahaman konsep
siswa meningkat dengan ditandai semakin meningkatnya nilai rata-rata yang
diperoleh dalam menyelesaikan soal-soal tes akhir siklus. Alasannya karena dalam pembelajaran konteksual ditekankan
pentingnya mengaitkan materi pembelajaran dengan keadaan rill setempat, siswa
dikondisikan belajar memecahkan masalah-masalah rill dan berupaya membangun
pengetahuan yang sudah dimiliki untuk mengkrontruksikan pengetahuan baru,
sehingga kegiatan belajar dengan menggunakan pendekatan kontekstual
mengkondisikan siswa belajar secara aktif memecahkan masalah.
KESIMPULAN
Dari uraian definisi,dan komponen-komponen
Contextual Teaching and Learning dan
hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran CTL sangat bagus
diterapkan dalam pembelajaran matematika
dan memiliki banyak kelebihan atau
keunggulan. Fokus keunggulan CTL yang menurut kami paling utama yaitu bahwa
strategi pembelajaran CTL menjadikan pembelajaran lebih
bermakna dan riil.
Dalam
pembelajaran CTL siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara
pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting,
sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata,
bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara fungsional, akan tetapi
materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa, sehingga tidak akan mudah
dilupakan.
Selain itu Kelas
dalam pembelajaran Kontekstual bukan sebagai tempat untuk memperoleh informasi,
akan tetapi sebagai tempat untuk menguji data hasil temuan mereka di lapangan. Pembelajaran seperti ini akan membuat suasana kelas
menjadi hidup dan tidak membosankan.
Suasana
pembelajaran yang bermakna demikian secara langsung akan memberikan efek
positif pada aspek sikap dan pengetahuan siswa. Salah satu aspek sikap yang
dapat ditingkatkan dengan strategi pembelajaran adalah aspek Minat belajar
matematika siswa.
Hal ini karena adanya kesadaran dari siswa akan mamfaat dari
mempelajari matematika setelah diajar dengan menggunakan strategi pemeblajaran
CTL
Selain aspek sikap, pembelajaran yang bermakna yang
dihasilkan oleh strategi pembelajaran CTL dapat juga meningkatkan aspek
pengetahuan yaitu pemahaman konsep siswa. Melalui pembelajaran kontekstual dengan memamfaatkan
model, siswa menjadi mampu memahami konsep dari materi yang dipelajari.
Dari
uraian diatas dengan jelas membuktikan bahwa strategi pembelajaran CTL sangat
sesuai untuk diterapkan dalam pembelajaran matematika. Pembelajaran matematika
menjadi lebih bermakna karena siswa dibawah dalam kehidupan nyata (konteks)
dalam setiap materi pembelajaran serta siswa memahami makna atau pemamfaatannya
dalam kehidupan. Pembelajaran yang bermakna inilah yang berpengaruh
meningkatkan Minat Belajar dan Pemahaman Konsep Matematika siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Astuti,dkk.2010. Hubungan
Antara Persepsi Terhadap Pembelajaran Kontekstual Dengan Minat Belajar
Matematika Pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 18 Semarang. Semarang : Fakultas Psikologi Universitas
Diponegoro
Aqib Zainal. 2013. Model-model,
Media, dan Strategi Pembelajaran Kontekstual. Bandung: Yrama Widya.
Daryono. 2008. Upaya peninkatan
hasil belajar matematika di MAN Kabupaten Sleman dengan pendekatan pembelajaran
kontekstual. Yogyakarta : Pascasarjana
UNY.
Heryani,
Dede. 2014. Penerapan
Pendekatan Ctl (Contextual Teaching Learning) Dalam Pembelajaran Matematika
Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Siswa Pada Materi Volume Bangun Ruang. Bandung : Universitas
Pendidikan Indonesia
NCTM.2008.Principles
and Standards For School Mathematics. Amerika Serikat
Poerwati & Sopian.2013.
Panduan Memahami Kurikulum 2013. Jakarta :Prestasi Pustakarya
Rusman. 2012. Model-model Pembelajaran:
Mengembangkan Profesional Guru Edisi Kedua. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sanjaya, Wina. 2006. Strategi
Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Kencana.
Theofilus Fautngilyaan. 2009.
Perbandingan keefektifan pembelajaran matematika dengan pendekatan kontekstual
dan pembelajaran dengan penemuan terbimbing di SMA Negeri 1 TUAL- Maluku.
Yogyakarta : Pascasarjana UNY .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar