Selasa, 18 November 2014

Implementasi Strategi Pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning) Untuk Menghasilkan Pembelajaran Matematika Yang Bermakna



Implementasi Strategi Pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning) Untuk Menghasilkan Pembelajaran Matematika Yang Bermakna
Markus Palobo1 , Juhrina A.Y2 ,Noviana Serawati3
 Magister Pendidikan Matematika Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta

ABSTRAK
Salah  satu  masalah  yang  dihadapi  dalam  pembelajaran  matematika  adalah  siswa  kurang didorong  untuk  mengembangkan  dan  menerapkan  konsep-konsep  yang  dipelajarinya  ke  dalam menyelesaikan  masalah  kehidupan  mereka.  Proses  pembelajaran  lebih  banyak  diarahkan  kepada kemampuan  untuk  menghafal  informasi.  Akibatnya,  ketika  siswa  lulus  sekolah,  mereka  hanya paham teori secara konseptual tanpa memahami makna kontekstualnya.  Strategi pembelajaran CTL (contextual  teaching  and  learning),  menawarkan  bentuk  pembelajaran  yang  melibatkan  siswa secara aktif  dalam proses pembelajaran.  Strategi  CTL merupakan suatu konsep pembelajaran yang mengaitkan antara materi pelajaran dengan situasi dunia nyata siswa melalui proses berpengalaman secara  langsung.  Dengan  demikian,  melalui  proses  berpengalaman  secara  langsung  diharapkan perkembangan  siswa terjadi secara utuh meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotor, sehingga pembelajaran  lebih  bermakna.  Komponen utama dalam  Strategi   pembelajaran  CTL  yakni kontuktivisme, inquri, questioning, learning community, modelling, reflection dan authentic assessment.  Dengan terciptanya pembelajaran matematika yang bermakna maka akan berpengaruh terhadap Minat dan Pemahaman Konsep Matematika. Melalui pembelajaran CTL Minat Belajar dan pemahaman konsep Matematika peserta didik akan meningkat.

Kata Kunci : Contextual Teaching and Learning, Pembelajaran Bermakna, Minat, Pemahaman Konsep

 PENDAHULUAN
Matematika dalam proses pembelajarannya terkadang lebih sering mengutamakan pada tuntutan siswa untuk  menghafal informasi. Siswa tidak dituntun untuk mengembangkan dan menerapkan konsep yang dipelajarainya dalam hal penyelasaian masalah-masalah yang berkaitan dengan kehidupan siswa.hal ini bisa menjadi masalah karena metode seperti ini dapat mengakibatkan siswa hanya memahami teori matematika secara konseptual saja, namun tidak memahami makna secara kontekstualnya.
Dewasa ini ada kecenderungan untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang beriorentasi pada penugasan materi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat jangka pendek tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang.
Untuk masalah diatas maka diberikan suatu solusi untuk menciptakan pemahaman siswa tentang matematika bukan hanya dari segi konseptual tetapi juga dari segi kontekstualnya. Strategi pembelajaran CTL bisa menjadi alternatif pembelajaran yang dapat diterapkan oleh pendidik untuk mengatasi masalah tersebut.CTL merupakan suatu konsep pembelajaran yang mengaitkan antara materi pelajaran dengan situasi dunia nyata siswa melalui proses berpengalaman  secara  langsung.  Dengan  demikian,  melalui  proses  berpengalaman  secara  langsung  diharapkan  perkembangan  siswa terjadi secara utuh sehingga  pembelajaran menjadi  lebih  bermakna.
PEMBAHASAN
A.    Strategi Pembelajaran Contextual Teaching and Learning
Menurut  Wina Sanjaya(2006 : 255) Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan pada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.
1.      Latar Belakang Filosofis
CTL banyak dipengaruhi oleh filsafat kontruktivisme yang mulai digagas oleh Mark Baldwin dan selanjutnya dikembangkan oleh Jean Peaget. Piaget berpendapat bahwa, sejak kecil setiap anak sudah memiliki struktur kognitif yang kemudian dinamakan “skema”. Skema terbentuk karena pengalaman. Proses penyempurnaan skema dilakukan melalui proses asimilasi dan akomodasi.
Pandangan Piaget tentang bagaimana sebenarnya pengetahuan itu terbentuk dalam struktur kognitif anak, sangat berpengaruh terhadap beberapa model pembelajaran diantaranya model pembelajaran kontekstual. Menurut pembelajaran kontekstual, pengetahuan itu akan bermakna manakala ditemukan dan dibangun sendiri oleh siswa. Pengetahuan yang diperoleh dari hasil pemberian orang lain, tidak akan menjadi pengetahuan yang bermakna. Pengetahuan yang demikian akan mudah dilupakan dan tidak fungsional. (Wina sanjaya, 2006: 256-259).
2.      Latar Belakang Psikologis
Pendekatan kontekstual mendasarkan diri pada kecenderungan pemikiran tentang belajar diantaranya: proses belajar, transfer belajar, siswa sebagai pembelajar dan pentingnya lingkungan belajar. Hakikat pembelajaran kontekstual mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
3.      Komponen CTL
Beberapa komponen utama dalam pembelajaran Kontekstual menurut Johnson  (2000: 65), yang dapat di uraikan sebagai berikut ;
a)    Melakukan hubungan yang bermakna (making meaningful connections) Keterkaitan yang mengarah pada makna adalah jantung dari pembelajaran dan pengajaran kontekstual. Ketika siswa dapat mengkaitkan isi dari mata pelajaran akademik, ilmu pengetahuan alam,atau sejarah dengan pengalamannya mereka sendiri, mereka menemukan makna, dan makna memberi mereka alasan untuk belajar. Mengkaitkan pembelajaran dengan kehidupan seseorang membuat proses belajar menjadi hidup dan keterkaitan inilah inti dari CTL.
b)   Melakukan kegiatan-kegiatan yang berarti (doing significant works) Model pembelajaran ini menekankan bahwa semua proses pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas harus punya arti bagi siswa sehingga mereka dapat mengkaitkan materi pelajaran dengan kehidupan siswa.
c)    Belajar yang diatur sendiri (self-regulated Learning) Pembelajaran yang diatur sendiri, merupakan pembelajaran yang aktif, mandiri, melibatkan kegiatan menghubungkan masalah ilmu dengan kehidupan sehari-hari dengan cara-cara yang berarti bagi siswa. Pembelajaran yang diatur siswa sendiri, memberi kebebasan kepada siswa menggunakan gaya belajarnya sendiri.
d)   Bekerjasama (collaborating) Siswa dapat bekerja sama. Guru membantu siswa bekerja secara efektif dalam kelompok, membantu siswa bekerja secara efektif dalam kelompok, membantu mereka memahami bagaimana mereka saling mempengaruhi dan saling berkomunikasi.
e)    Berpikir kritis dan kreatif (critical dan creative thinking) Pembelajaran kontekstual membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir tahap tinggi, nerpikir kritis dan berpikir kreatif. Berpikir kritis adalah suatu kecakapan nalar secara teratur, kecakapan sistematis dalam menilai, memecahkan masalah menarik keputusan, memberi keyakinan, menganalisis asumsi dan pencarian ilmiah. Berpikir kreatif adalah suatu kegiatan mental untuk meningkatkan kemurnian, ketajaman pemahaman dalam mengembangkan sesuatu.
f)    Mengasuh atau memelihara pribadi siswa (nuturing the individual) Dalam pembelajaran kontekstual siswa bukan hanya mengembangkan kemampuan-kemampuan intelektual dan keterampilan, tetapi juga aspek-aspek kepribadian: integritas pribadi, sikap, minat, tanggung jawab, disiplin, motif berprestasi, dsb. Guru dalam pembelajaran kontekstual juga berperan sebagai konselor, dan mentor. Tugas dan kegiatan yang akan dilakukan siswa harus sesuai dengan minat, kebutuhan dan kemampuannya.
g)   Mencapai standar yang tinggi (reaching high standards) Pembelajaran kontekstual diarahkan agar siswa berkembang secara optimal, mencapai keunggulan (excellent). Tiap siswa bisa mencapai keunggulan, asalkan dia dibantu oleh gurunya dalam menemukan potensi dan kekuatannya.
h)   Menggunakan Penilaian yang otentik (using authentic assessment) Penilaian autentik menantang para siswa untuk menerapkan informasi dan keterampilan akademik baru dalam situasi nyata untuk tujuan tertentu. Penilaian autentik merupakan antitesis dari ujian stanar, penilaian autentik memberi kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka sambil mempertunjukkan apa yang sudah mereka pelajari. (www.m-edukasi.web.id/2011/12/pengertian-pembelajaran-kontekstual-ctl )

B.  Penerapan Pembelajaran Contextual Teaching and Learning
Wina Sanjaya (2006 : 262) menyatakan dalam proses pembelajaran kontekstual, setiap guru perlu memahami tipe belajar dalam dunia siswa, artinya guru perlu menyesuaikan gaya mengajar terhadap gaya belajar siswa.Dalam proses pembelajaran konvensional, hal ini sering terlupakan sehingga proses pembelajaran tak ubahnya sebagai proses pemaksaan kehendak, yang menurut Paulo Fierra sebagai suatu sistem penindasan.
   Sehubungan dengan hal itu, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan bagi setiap guru manakala menggunakan pendekatan CTL.
a)      Siswa dalam pembelajaran kontekstual dipandang sebagai individu yang sedang berkembang. Kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keluasan pengalaman yang dimilikinya. Karena itu guru berperan sebagai pembimbing siswa agar mereka bisa belajar sesuai dengan tahap perkembangannya.
b)      Setiap anak memiliki kecenderungan untuk belajar hal-hal yang baru dan penuh tantangan. Kegemaran anak adalah mencoba hal-hal yang dianggap aneh dan baru. Dengan demikian guru berperan dalam memilih bahan-bahan belajar yang dianggap penting untuk dipelajari siswa.
c)      Guru membantu agar setiap siswa mampu menemukan keterkaitan antara pengalaman baru dengan pengalaman sebelumnya.
d)     Guru berperan memfasilitasi agar siswa mampu melaksanakan proses asimilasi dan proses akomodasi.
CTL Dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan CTL dalam kelas cukup mudah. Menurut Zainal (2013 : 6) Penerapan Pendekatan Kontekstual dapat dilaksanakan dengan tahapan-tahapan sebagai berikut : a)Kembangkan pikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksikan sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya; b)Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topic; c)Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya; d)Ciptakan masyarakat belajar; e)Hadirkan model sebagai contok pembelajaran; f)Lakukan refleksi diakhir pertemuan; g)Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara
C.    Minat Belajar
Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang  beberapa  kegiatan.  Kegiatan  yang  diminati  seseorang, diperhatikan terus menerus yang disertai rasa senang. (Slameto, 2003).
Dalam CTL guru mengaitkan pembelajaran dengan pengalaman siswa, sehingga siswa merasakan sendiri ilmu yang dipelajari tersebut. Selain itu dengan mengetahui pemamfaatan dari setiap materi yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, maka siswa memilki kemauan yang bersumber dari dalam diri siswa sendiri untuk mempelajari materi tersebut bukan karena paksaan guru namun karena menguntungkan bagi siswa.
Theofilus Fautngilyaan dalam thesisnya tentang Perbandingan keefektifan pembelajaran matematika dengan pendekatan kontekstual dan pembelajaran dengan penemuan terbimbing di SMA Negeri 1 TUAL- Maluku dimana diperoleh bahwa dengan  pendekatan kontekstual  diperoleh aspek minat siswa memiliki rata-rata 75,65 lebih efektif  dibandingkan pendekatan penemuan terbimbing yakni rata-rata 74,43.
Hal ini sesuai dengan pernyataan johnson bahwa ketika siswa dapat mengkaitkan isi dari mata pelajaran akademik, ilmu pengetahuan alam,atau sejarah dengan pengalaman mereka sendiri, mereka menemukan makna, dan makna memberi mereka alasan untuk belajar.
Hal tersebut semakin didukung oleh Daryono dalam Thesisnya yang berjudul  Upaya peningkatan hasil belajar matematika di MAN Kabupaten Sleman dengan pendekatan pembelajaran kontekstual. Hasilnya menunjukkan pendekatan kontekstual yang menerapkan sepuluh komponen CTL dapat meningkatkan aspek afektif (Aktivitas dan minat) maupun kognitif setelah dilakukan dengan dua siklus.
Astuti(2010) Penelitian mengenai hubungan antara persepsi terhadap pembelajaran kontekstual dengan minat belajar matematika pada siswa kelas tujuh SMP Negeri 18 Semarang menunjukkan hasil koefisien korelasi rxy= 0,772 dan tingkat signifikansi korelasi p=0,000 (p<0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi terhadap pembelajaran kontekstual merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi minat belajar matematika siswa kelas tujuh SMP Negeri 18 Semarang. Sumbangan efektif yang diberikan oleh persepsi terhadap pembelajaran kontekstual pada minat belajar matematika adalah sebesar 59,6%. Nilai 59,6% diketahui dari R square hasil pengolahan data penelitian sebesar 0,596, artinya variabel persepsi terhadap pembelajaran kontekstual mempengaruhi minat belajar matematika sebesar 59,6%, sedangkan 40,4% dipengaruhi oleh faktor -faktor lain yang tidak diungkap dalam penelitian ini.

D.    Pemahaman Konsep
Pemahaman konsep merupakan proses belajar mental yang  lebih tinggi untuk menentukan  apa inti dari setiap hal  yang dipelajari untuk membantu menyederhanakan  dan  meringkas  informasi yang  didapat, sehingga  membantu proses mengingat lebih efisien.
Menurut NCTM (2000), untuk mencapai pemahaman yang bermakna maka pembelajaran matematika harus diarahkan pada pengembangan kemampuan koneksi matematika antar berbagai ide, memahami bagaimana ide-ide matematika saling terkait  satu sama lain sehingga terbangun pemahaman menyeluruh, dan menggunakan matematik dalam konteks di luar matematika.
Permendiknas 22. Tahun (2006: 345) mengatakan bahwa dalam setiap kesempatan, pembelajaran matematika  hendaknya  dimulai  dengan  pengenalan  masalah  yang  sesuai  dengan situasi  (contextual  problem).  Dengan  mengajukan  masalah  kontekstual,  peserta didik secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika.
Dalam strategi pembelajaran CTL, siswa bertanggung jawab dalam memonitor dan mengembangkan pembelajaran mereka masing-masing (sanjaya, 2006 : 262). Guru berperan memfasilitasi agar siswa mampu melaksanakan proses asimilasi dan proses akomodasi. Penggunaan model yang sering dijumpai siswa dalam kehidupan sehari-hari dalam pembelajaran CTL memberikan pemahaman konsep bagi siswa tentang materi yang yang dipelajari.
Penelitian heryani (2014 ) tentang penerapan pendekatan CTL dalam pembelajaran matematika untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa pada materi volume bangun ruang,diperoleh bahwa Pemahaman konsep siswa meningkat dengan ditandai semakin meningkatnya nilai rata-rata yang diperoleh dalam menyelesaikan soal-soal tes akhir siklus. Alasannya karena  dalam pembelajaran konteksual ditekankan pentingnya mengaitkan materi pembelajaran dengan keadaan rill setempat, siswa dikondisikan belajar memecahkan masalah-masalah rill dan berupaya membangun pengetahuan yang sudah dimiliki untuk mengkrontruksikan pengetahuan baru, sehingga kegiatan belajar dengan menggunakan pendekatan kontekstual mengkondisikan siswa belajar secara aktif memecahkan masalah.

 KESIMPULAN
Dari uraian definisi,dan komponen-komponen Contextual Teaching and Learning  dan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran CTL sangat bagus diterapkan dalam pembelajaran matematika  dan memiliki banyak  kelebihan atau keunggulan. Fokus keunggulan CTL yang menurut kami paling utama yaitu bahwa strategi pembelajaran CTL menjadikan pembelajaran  lebih bermakna dan riil.
Dalam pembelajaran CTL siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa, sehingga tidak akan mudah dilupakan.
 Selain itu Kelas dalam pembelajaran Kontekstual bukan sebagai tempat untuk memperoleh informasi, akan tetapi sebagai tempat untuk menguji data hasil temuan mereka di lapangan. Pembelajaran seperti ini akan membuat suasana kelas menjadi hidup dan tidak membosankan.
Suasana pembelajaran yang bermakna demikian secara langsung akan memberikan efek positif pada aspek sikap dan pengetahuan siswa. Salah satu aspek sikap yang dapat ditingkatkan dengan strategi pembelajaran adalah aspek Minat belajar matematika  siswa. Hal ini karena  adanya kesadaran dari siswa akan mamfaat dari mempelajari matematika setelah diajar dengan menggunakan strategi pemeblajaran CTL
Selain aspek sikap, pembelajaran yang bermakna yang dihasilkan oleh strategi pembelajaran CTL dapat juga meningkatkan aspek pengetahuan yaitu pemahaman konsep siswa. Melalui pembelajaran kontekstual dengan memamfaatkan model, siswa menjadi mampu memahami konsep dari materi yang dipelajari.
Dari uraian diatas dengan jelas membuktikan bahwa strategi pembelajaran CTL sangat sesuai untuk diterapkan dalam pembelajaran matematika. Pembelajaran matematika menjadi lebih bermakna karena siswa dibawah dalam kehidupan nyata (konteks) dalam setiap materi pembelajaran serta siswa memahami makna atau pemamfaatannya dalam kehidupan. Pembelajaran yang bermakna inilah yang berpengaruh meningkatkan Minat Belajar dan Pemahaman Konsep Matematika siswa.

DAFTAR PUSTAKA
Astuti,dkk.2010. Hubungan Antara Persepsi Terhadap Pembelajaran Kontekstual Dengan Minat Belajar Matematika Pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 18 Semarang.  Semarang : Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro
Aqib Zainal. 2013. Model-model, Media, dan Strategi Pembelajaran Kontekstual. Bandung: Yrama Widya.
Daryono. 2008. Upaya peninkatan hasil belajar matematika di MAN Kabupaten Sleman dengan pendekatan pembelajaran kontekstual. Yogyakarta : Pascasarjana UNY.
Heryani, Dede. 2014. Penerapan Pendekatan Ctl (Contextual Teaching Learning) Dalam Pembelajaran Matematika Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Siswa Pada Materi Volume Bangun Ruang. Bandung :  Universitas Pendidikan Indonesia
NCTM.2008.Principles and Standards For School Mathematics. Amerika Serikat
Poerwati & Sopian.2013. Panduan Memahami Kurikulum 2013. Jakarta :Prestasi Pustakarya
Rusman. 2012. Model-model Pembelajaran: Mengembangkan Profesional Guru Edisi Kedua. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Kencana.
Theofilus Fautngilyaan. 2009. Perbandingan keefektifan pembelajaran matematika dengan pendekatan kontekstual dan pembelajaran dengan penemuan terbimbing di SMA Negeri 1 TUAL- Maluku. Yogyakarta : Pascasarjana UNY .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar