Model penemuan
merupakan model belajar yang dipopulerkan oleh Bruner. Model ini menghendaki
keterlibatan aktif siswa dalam memahami konsep-konsep dan prinsip-prinsip,
sedangkan guru mendorong siswa agar memiliki pengalaman dan melakukan percobaan
yang memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri
Prawironegoro
mendefinisikan metode penemuan sebagai prosedur pembelajaran yang mempunyai
tekanan siswa berlatih cakap mencapai tujuan dan siswa aktif mengadakan
percobaan atau penemuan sendiri sebelum membuat kesimpulan dari yang
dipelajari. Dengan demikian, materi yang akan dipelajari siswa tidak disajikan
dalam bentuk final. Siswa harus melakukan aktivitas mental yang mungkin
melibatkan aktivitas fisik dalam upaya memperoleh pemahaman pada materi
tertentu. Selama proses penemuan, siswa memanipulasi, membuat struktur, dan
mentransfer informasi sehingga menemukan informasi baru yang berupa konjekture,
hipotesis, atau kebenaran matematika
Hudojo berpendapat
bahwa menemukan berarti menghasilkan sesuatu untuk pertama kali dengan
menggunakan imajinasi, pikiran, atau eksperimen. Penemuan dalam belajar
matematika berarti kegiatan menghasilkan suatu ide matematika, suatu aturan,
atau suatu cara penyelesaian masalah untuk pertama kali. Ide matematika yang
pertama kali ditemukan siswa belum tentu ide yang benar-benar baru, tetapi
setidaknya baru bagi siswa. Ide yang ditemukan sendiri akan lebih dipahami dan
diingat oleh si penemu. Karena itu, penemuan digunakan sebagai salah satu
metode dalam belajar matematika. Lebih lanjut, Hudojo menyebut metode
penemuan sebagai suatu cara penyampaian topik matematika yang memungkinkan
siswa menemukan sendiri pola-pola atau struktur-struktur matematika melalui
serentetan pengalaman-pengalaman belajar yang lampau.
Bruner
menganggap bahwa belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara
aktif oleh manusia, sehingga belajar dengan penemuan akan memberikan hasil yang
paling baik. Lebih lanjut Bruner mengatakan bahwa belajar bermakna hanya dapat
terjadi melalui belajar penemuan. Berbeda dengan Bruner, Ausubel pendapat bahwa
belajar bermakna tidak hanya terjadi melalui penemuan. Belajar akan bermakna
jika informasi yang akan dipelajari siswa disusun sesuai dengan struktur
kognitif yang dimiliki siswa sehingga siswa dapat mengaitkan informasi baru
dengan struktur kognitif yang dimilikinya. Ausubel menambahkan bahwa metode
penemuan aplikasinya terbatas dan membuang-buang waktu, karena itu perlu ada
penemuan terbimbing Bell (1981:241) mengatakan bahwa belajar penemuan dapat
terjadi di dalam situasi yang sangat teratur, baik siswa maupun guru mengikuti
langkah-langkah yang sistematis. Guru membimbing dan mengarahkan siswa
selangkah demi selangkah dengan mengikuti bentuk tanya jawab yang telah diatur
secara sistematis untuk membuat penemuan. Langkah-langkah kegiatan atau
petunjuk dapat dituangkan dalam lembar kerja yang dibuat guru. Selain itu,
diperlukan pula campur tangan guru untuk membangkitkan perhatian siswa pada
tugas yang sedang dihadapi dan mengurangi pemborosan waktu. Ruseffendi
(1988:18) menekankan adanya bimbingan guru dalam pembelajaran penemuan.
Siswa-siswa bukanlah ilmuwan dan sesuatu yang dihadapi benar-benar merupakan
sesuatu yang baru bagi siswa, sehingga petunjuk ataupun instruksi guru
sangatlah diperlukan siswa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar