Jumat, 24 Oktober 2014

Contextual Teaching and Learning (CTL)

1)      Pengertian Contextual Teaching and Learning
Elaine B. Johnson (Riwayat,2018) mengatakan pembelajaran kontekstual adalah sebuah sistem yang merangsang otak untuk menyusun pola-pola yang mewujudkan makna. Lebih lanjut, Elaine mengatakan bahwa pembelajaran kontekstual adalah suatu sistem pembelajaran yang cocok dengan otakyang menghasilkan makna dengan menghubungkan muatan akademis dengan konteks dari kehidupan sehari-hari siswa.
Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks lainnya.
 CTL merupakan suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat(Nurhadi, 2002). Dengan konsep ini, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung lebih alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa.
2)      Prinsip-prinsip Contextual Teaching and Learning
Pembelajaran kontekstual dengan pendekatan konstruktivisme dipandang sebagai salah satu strategi yang memenuhi prinsip-prinsip pembelajaran berbasis kompetensi. Dengan lima strategi pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning), yaitu relating, experiencing, applying, cooperating, dan transferrini diharapkan peserta didik mampu mencapai kompetensi secara maksimal.
Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja ber-sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual. Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan-nya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidu-pan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiri), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment)
     Karakteristik Pembelajaran CTL 1. Kerjasama. 2. Saling menunjang. 3. Menyenangkan, tidak membosankan. 4. Belajar dengan bergairah. 5. Pembelajaran terintegrasi. 6. Menggunakan berbagai sumber. 7. Siswa aktif. 8. Sharing dengan teman. 9. Siswa kritis guru kreatif. 10. Dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor dan lain-lain. 11. Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor tetapi hasil karya siswa, laporan hasil pratikum, karangan siswa dan lain-lain. Dalam pembelajaran kontekstual, program pembelajaran lebih merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang guru, yang berisi skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik yang akan dipelajarinya
     Secara umum tidak ada perbedaan mendasar format antara program pembelajaran konvensional dengan program pembelajaran kontekstual. Program pembelajaran konvensional lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang akan dicapai (je-las dan operasional), sedangkan program untuk pembelajaran kontekstual le-bih menekankan pada skenario pembelajarannya.
     Beberapa komponen utama dalam pembelajaran Kontekstual menurut Johnson (2000: 65), yang dapat di uraikan sebagai berikut:
a)      Melakukan hubungan yang bermakna (making meaningful connections) Keterkaitan yang mengarah pada makna adalah jantung dari pembelajaran dan pengajaran kontekstual. Ketika siswa dapat mengkaitkan isi dari mata pelajaran akademik, ilmu pengetahuan alam. Atau sejarah dengan pengalamannya mereka sendiri, mereka menemukan makna, dan makna memberi mereka alasan untuk belajar. Mengkaitkan pembelajaran dengan kehidupan seseorang membuat proses belajar menjadi hidup dan keterkaitan inilah inti dari CTL.
b)      Melakukan kegiatan-kegiatan yang berarti (doing significant works) Model pembelajaran ini menekankan bahwa semua proses pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas harus punya arti bagi siswa sehingga mereka dapat mengkaitkan materi pelajaran dengan kehidupan siswa.
c)      Belajar yang diatur sendiri (self-regulated Learning) Pembelajaran yang diatur sendiri, merupakan pembelajaran yang aktif, mandiri, melibatkan kegiatan menghubungkan masalah ilmu dengan kehidupan sehari-hari dengan cara-cara yang berarti bagi siswa. Pembelajaran yang diatur siswa sendiri, memberi kebebasan kepada siswa menggunakan gaya belajarnya sendiri.
d)     Bekerjasama (collaborating) Siswa dapat bekerja sama. Guru membantu siswa bekerja secara efektif dalam kelompok, membantu siswa bekerja secara efektif dalam kelompok, membantu mereka memahami bagaimana mereka saling mempengaruhi dan saling berkomunikasi.
e)      Berpikir kritis dan kreatif (critical dan creative thinking) Pembelajaran kontekstual membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir tahap tinggi, nerpikir kritis dan berpikir kreatif. Berpikir kritis adalah suatu kecakapan nalar secara teratur, kecakapan sistematis dalam menilai, memecahkan masalah menarik keputusan, memberi keyakinan, menganalisis asumsi dan pencarian ilmiah. Berpikir kreatif adalah suatu kegiatan mental untuk meningkatkan kemurnian, ketajaman pemahaman dalam mengembangkan sesuatu.
f)       Mengasuh atau memelihara pribadi siswa (nuturing the individual) Dalam pembelajaran kontekstual siswa bukan hanya mengembangkan kemampuan-kemampuan intelektual dan keterampilan, tetapi juga aspek-aspek kepribadian: integritas pribadi, sikap, minat, tanggung jawab, disiplin, motif berprestasi, dsb. Guru dalam pembelajaran kontekstual juga berperan sebagai konselor, dan mentor. Tugas dan kegiatan yang akan dilakukan siswa harus sesuai dengan minat, kebutuhan dan kemampuannya.
g)      Mencapai standar yang tinggi (reaching high standards) Pembelajaran kontekstual diarahkan agar siswa berkembang secara optimal, mencapai keunggulan (excellent). Tiap siswa bisa mencapai keunggulan, asalkan sia dibantu oleh gurunya dalam menemukan potensi dan kekuatannya.
h)      Menggunakan Penilaian yang otentik (using authentic assessment) Penilaian autentik menantang para siswa untuk menerapkan informasi dan keterampilan akademik baru dalam situasi nyata untuk tujuan tertentu. Penilaian autentik merupakan antitesis dari ujian stanar, penilaian autentik memberi kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka sambil mempertunjukkan apa yang sudah mereka pelajari

3)      Langkah-Langkah Pembelajaran Contextual Teaching and Learning
Langkah-langkah CTL CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan CTL dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkah-langkah yang harus ditempuh dalam CTL adalah sebagai berikut:
a)      Kembangkan pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
b)      Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik.
c)      Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
d)     Ciptakan masyarakat belajar.
e)      Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran.
f)       Lakukan refleksi di akhir pertemuan.
g)      Lakukan penilaian yang sebenarnya (authentic assessment) dengan berbagai cara
Contoh Langkah-langkah pembelajaran CTL yang terkandung dalam RPP sebagai :
a)      Pendahuluan
o   Guru menunjukkan sikap hangat dan antusias seperti mengucapkan salam dan mengabsen kehadiran siswa.
o   Guru memberikan motivasi dan rasa ingin tahu siswa dengan memberikan pertannyaan yaitu: kemarin kalian telah mempelajari berbagai macam jenis-jenis segitiga dan contoh bentuk segitiga dalam kehidupan sehari-hari, coba sekarang sebutkan contohnya!
o   Guru memperhatikan minat siswa dengan mendengarkan jawaban-jawaban siswa.
o   Guru mengemukakan tujuan dan indikator yang harus dicapai oleh siswa.
o    Guru membagi siswa dalam kelas menjadi 5 kelompok.
b)      Kegiatan inti
 Guru menerapkan tujuh komponen pendekatan kontekstual tersebut dalam LKS:
o   Konstruktivisme
ü  Guru memberikan permasalahan pada siswa misalnya dengan ilustrasi berikut: “Sebuah taman berbentuk segitiga akan diberi pembatas disekeliling taman 11 segitiga itu dengan menggunakan tali. Jika panjang sisi – sisitaman itu adalah 10m, 15m, dan 13m, berapa panjang tali yang diperlukan?”
ü  Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan gagasangagasan mereka terlebih dahulu.
o   Pemodelan
Guru membagikan alat peraga yaitu segitiga kepada masing-masing kelompok.
o   Inkuiri (Menemukan)
ü  Guru menyuruh siswa untuk mengambil kertas karton yang sudah terdapat gambar segitiga dimeja guru.
ü  Guru menyuruh siswa menyiapkan penggaris, jarum pentul, dan benang.
ü  Guru menyuruh siswa mengukur masing- masing panjang sisi segitiga yang terdapat pada kertas karton.
ü  Guru menyuruh siswa mentancapkan jarum pada setiap sudut-sudutnya.
ü  Guru menyuruh siswa melingkarkan benang pada jarum sehingga membentuk segitiga yang sama dengan segitiga pada kertas karton.Guru menyuruh siswa mengukur panjang benang yang mengelilingi segitiga tersebut.
ü  Guru menyuruh siswa menuliskan hasilnya di kolom yang tersedia.
o   Bertanya
ü  Guru menjelaskan kembali dan memantapkan konsep yang sedang dipelajari bahwa keliling segitiga adalah jumlah panjang ketiga sisi segitiga.
ü  Guru bertanya kepada siswa misalnya keliling segitiga adalah jumlah sisi-sisi segitiga. Benarkah pernyataan tersebut? 12
o   Masyarakat belajar
 Guru menyuruh siswa untuk mengerjakan soal di LKS secara berdiskusi dengan kelompoknya misalnya misalnya diketahhui sebuah segitiga sama sisi mempunyai keliling 99 cm. Hitunglah panjang sisi segitiga tersebut!
o   Refleksi
Guru membimbing siswa membuat rangkuman dari kegiatan yang telah dipelajari misalnya lengkapilah kalimat dibawah ini: keliling segitiga adalah jumlah dari….
o   Penilaian yang sebenarnya
ü  Guru menyuruh siswa untuk mengumpulkan LKS.
ü  Guru mencocokan jawaban siswa secara bersama-sama.
c)      Penutup
o   Guru membimbing dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencatat rangkuman materi.
o   Guru memberikan PR yang diambil dari buku ajar.
o   Guru menutup pelajaran.

4)      Kelebihan dan Kekurangan Contextual Teaching and Learning
Keunggulan dan Kelemahan Pembelajaran Kontekstual (CTL),keunggulan dari pembelajaran Kontekstual adalah:
a)      Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil. Artinya siswa dituntut untuk dapat menagkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa, sihingga tidak akan mudah dilupakan.
b)      Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena metode pembelajaran CTL menganut aliran konstruktivisme, dimana seorang siswa dituntun untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Melalui landasan filosofis konstruktivisme siswa diharapkan belajar melalui ”mengalami” bukan ”menghafal”.
c)      Kontekstual adalah pembelajaran yang menekankan pada aktivitas siswa secara penuh, baik fisik maupun mental.
d)     Kelas dalam pembelajaran Kontekstual bukan sebagai tempat untuk memperoleh informasi, akan tetapi sebagai tempat untuk menguji data hasil temuan mereka di lapangan
e)      Materi pelajaran dapat ditemukan sendiri oleh siswa, bukan hasil pemberian dari guru.
f)       Penerapan pembelajaran Kontekstual dapat menciptakan suasana pembelajaran yang bermakna
Sedangkan kelemahan dari pembelajaran kontekstual adalah sebagai berikut:
a)      Diperlukan waktu yang cukup lama saat proses pembelajaran Kontekstual berlangsung.
b)      Jika guru tidak dapat mengendalikan kelas maka dapat menciptakan situasi kelas yang kurang kondusif.
c)      Guru lebih intensif dalam membimbing. Karena dalam m CTL, guru tidak lagi berperan sebagai pusat informasi. Tugas guru adalah mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan pengetahuan dan ketrampilan yang baru bagi siswa. Siswa dipandang sebagai individu yang sedang berkembang. Kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keluasan pengalaman yang dimilikinya. Dengan demikian, peran guru bukanlah sebagai instruktur atau ”penguasa” yang memaksa kehendak melainkan guru adalah pembimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan tahap perkembangannya.
Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide–ide dan mengajak siswa agar dengan menyadari dan dengan sadar menggunakan strategi–strategi mereka sendiri untuk belajar. Namun dalam konteks ini tentunya guru memerlukan perhatian dan bimbingan yang ekstra terhadap siswa agar tujuan pembelajaran sesuai dengan apa yang diterapkan semula.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar