1)
Pengertian Contextual Teaching and
Learning
Elaine B. Johnson (Riwayat,2018) mengatakan
pembelajaran kontekstual adalah sebuah sistem yang merangsang otak untuk
menyusun pola-pola yang mewujudkan makna. Lebih lanjut, Elaine mengatakan bahwa
pembelajaran kontekstual adalah suatu sistem pembelajaran yang cocok dengan otakyang
menghasilkan makna dengan menghubungkan muatan akademis dengan konteks dari
kehidupan sehari-hari siswa.
Pembelajaran
Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) merupakan suatu proses
pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna
materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan
konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural)
sehingga siswa memiliki pengetahuan/keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan
(ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks lainnya.
CTL merupakan suatu konsep belajar dimana guru
menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat
hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam
kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat(Nurhadi, 2002). Dengan
konsep ini, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses
pembelajaran berlangsung lebih alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan
mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa.
2)
Prinsip-prinsip Contextual Teaching
and Learning
Pembelajaran
kontekstual dengan pendekatan konstruktivisme dipandang sebagai salah satu
strategi yang memenuhi prinsip-prinsip pembelajaran berbasis kompetensi. Dengan
lima strategi pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning),
yaitu relating, experiencing, applying, cooperating, dan transferrini
diharapkan peserta didik mampu mencapai kompetensi secara maksimal.
Dalam
kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Guru
lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru
mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja ber-sama untuk menemukan
sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari
menemukan sendiri bukan dari apa kata guru. Begitulah peran guru di kelas yang
dikelola dengan pendekatan kontekstual. Pembelajaran kontekstual (Contextual
Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan
antara materi yang diajarkan-nya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong
siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya
dalam kehidu-pan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama
pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (constructivism), bertanya
(questioning), menemukan (inquiri), masyarakat belajar (learning community),
pemodelan (modeling), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment)
Karakteristik Pembelajaran CTL 1.
Kerjasama. 2. Saling menunjang. 3. Menyenangkan, tidak membosankan. 4. Belajar
dengan bergairah. 5. Pembelajaran terintegrasi. 6. Menggunakan berbagai sumber.
7. Siswa aktif. 8. Sharing dengan teman. 9. Siswa kritis guru kreatif. 10.
Dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa, peta-peta, gambar,
artikel, humor dan lain-lain. 11. Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor
tetapi hasil karya siswa, laporan hasil pratikum, karangan siswa dan lain-lain.
Dalam pembelajaran kontekstual, program pembelajaran lebih merupakan rencana
kegiatan kelas yang dirancang guru, yang berisi skenario tahap demi tahap
tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik yang
akan dipelajarinya
Secara umum tidak ada perbedaan mendasar
format antara program pembelajaran konvensional dengan program pembelajaran
kontekstual. Program pembelajaran konvensional lebih menekankan pada deskripsi
tujuan yang akan dicapai (je-las dan operasional), sedangkan program untuk
pembelajaran kontekstual le-bih menekankan pada skenario pembelajarannya.
Beberapa komponen utama dalam pembelajaran
Kontekstual menurut Johnson (2000: 65), yang dapat di uraikan sebagai berikut:
a)
Melakukan hubungan yang bermakna (making
meaningful connections) Keterkaitan yang mengarah pada makna adalah jantung
dari pembelajaran dan pengajaran kontekstual. Ketika siswa dapat mengkaitkan
isi dari mata pelajaran akademik, ilmu pengetahuan alam. Atau sejarah dengan
pengalamannya mereka sendiri, mereka menemukan makna, dan makna memberi mereka
alasan untuk belajar. Mengkaitkan pembelajaran dengan kehidupan seseorang
membuat proses belajar menjadi hidup dan keterkaitan inilah inti dari CTL.
b)
Melakukan kegiatan-kegiatan yang berarti
(doing significant works) Model pembelajaran ini menekankan bahwa semua proses
pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas harus punya arti bagi siswa sehingga
mereka dapat mengkaitkan materi pelajaran dengan kehidupan siswa.
c)
Belajar yang diatur sendiri
(self-regulated Learning) Pembelajaran yang diatur sendiri, merupakan
pembelajaran yang aktif, mandiri, melibatkan kegiatan menghubungkan masalah
ilmu dengan kehidupan sehari-hari dengan cara-cara yang berarti bagi siswa.
Pembelajaran yang diatur siswa sendiri, memberi kebebasan kepada siswa
menggunakan gaya belajarnya sendiri.
d)
Bekerjasama (collaborating) Siswa dapat
bekerja sama. Guru membantu siswa bekerja secara efektif dalam kelompok,
membantu siswa bekerja secara efektif dalam kelompok, membantu mereka memahami
bagaimana mereka saling mempengaruhi dan saling berkomunikasi.
e)
Berpikir kritis dan kreatif (critical
dan creative thinking) Pembelajaran kontekstual membantu siswa mengembangkan
kemampuan berpikir tahap tinggi, nerpikir kritis dan berpikir kreatif. Berpikir
kritis adalah suatu kecakapan nalar secara teratur, kecakapan sistematis dalam
menilai, memecahkan masalah menarik keputusan, memberi keyakinan, menganalisis
asumsi dan pencarian ilmiah. Berpikir kreatif adalah suatu kegiatan mental
untuk meningkatkan kemurnian, ketajaman pemahaman dalam mengembangkan sesuatu.
f)
Mengasuh atau memelihara pribadi siswa
(nuturing the individual) Dalam pembelajaran kontekstual siswa bukan hanya
mengembangkan kemampuan-kemampuan intelektual dan keterampilan, tetapi juga
aspek-aspek kepribadian: integritas pribadi, sikap, minat, tanggung jawab, disiplin,
motif berprestasi, dsb. Guru dalam pembelajaran kontekstual juga berperan
sebagai konselor, dan mentor. Tugas dan kegiatan yang akan dilakukan siswa
harus sesuai dengan minat, kebutuhan dan kemampuannya.
g)
Mencapai standar yang tinggi (reaching
high standards) Pembelajaran kontekstual diarahkan agar siswa berkembang secara
optimal, mencapai keunggulan (excellent). Tiap siswa bisa mencapai keunggulan,
asalkan sia dibantu oleh gurunya dalam menemukan potensi dan kekuatannya.
h)
Menggunakan Penilaian yang otentik
(using authentic assessment) Penilaian autentik menantang para siswa untuk
menerapkan informasi dan keterampilan akademik baru dalam situasi nyata untuk
tujuan tertentu. Penilaian autentik merupakan antitesis dari ujian stanar,
penilaian autentik memberi kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan kemampuan
terbaik mereka sambil mempertunjukkan apa yang sudah mereka pelajari
3)
Langkah-Langkah Pembelajaran
Contextual Teaching and Learning
Langkah-langkah
CTL CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan
kelas yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan CTL dalam kelas cukup mudah.
Secara garis besar, langkah-langkah yang harus ditempuh dalam CTL adalah
sebagai berikut:
a)
Kembangkan pemikiran bahwa siswa akan
belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri
pengetahuan dan keterampilan barunya.
b)
Laksanakan sejauh mungkin kegiatan
inkuiri untuk semua topik.
c)
Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan
bertanya.
d)
Ciptakan masyarakat belajar.
e)
Hadirkan model sebagai contoh
pembelajaran.
f)
Lakukan refleksi di akhir pertemuan.
g)
Lakukan penilaian yang sebenarnya
(authentic assessment) dengan berbagai cara
Contoh Langkah-langkah
pembelajaran CTL yang terkandung dalam RPP sebagai :
a) Pendahuluan
o Guru menunjukkan sikap hangat dan antusias seperti
mengucapkan salam dan mengabsen kehadiran siswa.
o Guru memberikan motivasi dan rasa ingin tahu siswa
dengan memberikan pertannyaan yaitu: kemarin kalian telah mempelajari berbagai
macam jenis-jenis segitiga dan contoh bentuk segitiga dalam kehidupan
sehari-hari, coba sekarang sebutkan contohnya!
o Guru memperhatikan minat siswa dengan mendengarkan
jawaban-jawaban siswa.
o Guru mengemukakan tujuan dan indikator yang harus
dicapai oleh siswa.
o Guru membagi
siswa dalam kelas menjadi 5 kelompok.
b) Kegiatan inti
Guru
menerapkan tujuh komponen pendekatan kontekstual tersebut dalam LKS:
o Konstruktivisme
ü Guru memberikan permasalahan pada siswa misalnya
dengan ilustrasi berikut: “Sebuah taman berbentuk segitiga akan diberi pembatas
disekeliling taman 11 segitiga itu dengan menggunakan tali. Jika panjang sisi –
sisitaman itu adalah 10m, 15m, dan 13m, berapa panjang tali yang diperlukan?”
ü Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk
mengemukakan gagasangagasan mereka terlebih dahulu.
o Pemodelan
Guru membagikan alat peraga yaitu segitiga kepada
masing-masing kelompok.
o Inkuiri (Menemukan)
ü Guru menyuruh siswa untuk mengambil kertas karton
yang sudah terdapat gambar segitiga dimeja guru.
ü Guru menyuruh siswa menyiapkan penggaris, jarum
pentul, dan benang.
ü Guru menyuruh siswa mengukur masing- masing panjang
sisi segitiga yang terdapat pada kertas karton.
ü Guru menyuruh siswa mentancapkan jarum pada setiap
sudut-sudutnya.
ü Guru menyuruh siswa melingkarkan benang pada jarum
sehingga membentuk segitiga yang sama dengan segitiga pada kertas karton.Guru
menyuruh siswa mengukur panjang benang yang mengelilingi segitiga tersebut.
ü Guru menyuruh siswa menuliskan hasilnya di kolom
yang tersedia.
o Bertanya
ü Guru menjelaskan kembali dan memantapkan konsep yang
sedang dipelajari bahwa keliling segitiga adalah jumlah panjang ketiga sisi
segitiga.
ü Guru bertanya kepada siswa misalnya keliling
segitiga adalah jumlah sisi-sisi segitiga. Benarkah pernyataan tersebut? 12
o Masyarakat belajar
Guru menyuruh
siswa untuk mengerjakan soal di LKS secara berdiskusi dengan kelompoknya
misalnya misalnya diketahhui sebuah segitiga sama sisi mempunyai keliling 99
cm. Hitunglah panjang sisi segitiga tersebut!
o Refleksi
Guru membimbing siswa membuat rangkuman dari
kegiatan yang telah dipelajari misalnya lengkapilah kalimat dibawah ini:
keliling segitiga adalah jumlah dari….
o Penilaian yang sebenarnya
ü Guru menyuruh siswa untuk mengumpulkan LKS.
ü Guru mencocokan jawaban siswa secara bersama-sama.
c) Penutup
o Guru membimbing dan memberikan kesempatan kepada
siswa untuk mencatat rangkuman materi.
o Guru memberikan PR yang diambil dari buku ajar.
o Guru menutup pelajaran.
4)
Kelebihan dan Kekurangan Contextual
Teaching and Learning
Keunggulan
dan Kelemahan Pembelajaran Kontekstual (CTL),keunggulan dari pembelajaran
Kontekstual adalah:
a) Pembelajaran
menjadi lebih bermakna dan riil. Artinya siswa dituntut untuk dapat menagkap
hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini
sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan
kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara
fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam
memori siswa, sihingga tidak akan mudah dilupakan.
b) Pembelajaran
lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena
metode pembelajaran CTL menganut aliran konstruktivisme, dimana seorang siswa
dituntun untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Melalui landasan filosofis
konstruktivisme siswa diharapkan belajar melalui ”mengalami” bukan ”menghafal”.
c) Kontekstual
adalah pembelajaran yang menekankan pada aktivitas siswa secara penuh, baik
fisik maupun mental.
d) Kelas
dalam pembelajaran Kontekstual bukan sebagai tempat untuk memperoleh informasi,
akan tetapi sebagai tempat untuk menguji data hasil temuan mereka di lapangan
e) Materi
pelajaran dapat ditemukan sendiri oleh siswa, bukan hasil pemberian dari guru.
f) Penerapan
pembelajaran Kontekstual dapat menciptakan suasana pembelajaran yang bermakna
Sedangkan kelemahan dari pembelajaran kontekstual
adalah sebagai berikut:
a)
Diperlukan waktu yang cukup lama saat
proses pembelajaran Kontekstual berlangsung.
b)
Jika guru tidak dapat mengendalikan
kelas maka dapat menciptakan situasi kelas yang kurang kondusif.
c)
Guru lebih intensif dalam membimbing.
Karena dalam m CTL, guru tidak lagi berperan sebagai pusat informasi. Tugas
guru adalah mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk
menemukan pengetahuan dan ketrampilan yang baru bagi siswa. Siswa dipandang
sebagai individu yang sedang berkembang. Kemampuan belajar seseorang akan
dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keluasan pengalaman yang dimilikinya.
Dengan demikian, peran guru bukanlah sebagai instruktur atau ”penguasa” yang
memaksa kehendak melainkan guru adalah pembimbing siswa agar mereka dapat
belajar sesuai dengan tahap perkembangannya.
Guru memberikan
kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide–ide dan
mengajak siswa agar dengan menyadari dan dengan sadar menggunakan
strategi–strategi mereka sendiri untuk belajar. Namun dalam konteks ini
tentunya guru memerlukan perhatian dan bimbingan yang ekstra terhadap siswa
agar tujuan pembelajaran sesuai dengan apa yang diterapkan semula.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar