Rabu, 22 Oktober 2014

Inkuri

a.      Pengertian Metode Inquiry
Secara itimologi inkuiri berasal dari kata to inquire yang berarti ikut serta, atau terlibat, dalam mengajuhkan pertanyaan-pertanyaan, mencari informasi, dan melakukan penyelidikan.
Piaget memberikan definisi pendekatan  Inquiry sebagai pendidikan yang mempersiapkan situasi bagi siswa untuk melakukan eksperimen sendiri. Mengajukan pertayaan-pertayaan dan mencari sendiri jawaban atas pertayaan yang mereka ajukan (Piaget dalam Sofan dan Iif, 2010: 103).
Metode inkuiri yang didefinisikan sebagai suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, dan analisis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuan dengan penuh percaya diri (M. Gellu dalam Sofan dan Lif, 2010: 103).
Metode inkuiri adalah cara penyajian pelajaran yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menemukan informasi dengan atau tanpa bantuan guru (Mulyani Sumantri, 1999: 164).
Inqury  dalam  bahasa  Indonesia  berarti  penemuan.  Menurut  Sund  (dalam Suryobroto, 2002:193) dinyatakan bahwa metode penemuan adalah proses mental dimana siswa  mengasimilasikan sesuatu konsep atau sesuatu prinsip. Proses mental  tersebut   misalnya:  mengamati,  menggolong -golongkan,  membuat dugaan,  menjelaskan,  mengukur,  membuat  kesimpulan,  dan  sebagainya.   Yang dimaksud  konsep  misalnya:  segitiga,  demokrasi,  panas,  energi,  dan  sebagainya.
Sedangkan prinsip misalnya: logam apabila dipanasi mengembang, lingkungan berpengaruh terhadap kehidupan organisme, dan sebagainya.
    Kuslan dan Stone (Dahar dan Liliasari 1986, dalam Iskandar, 1996/1997:68) mendefinisikan “pendekatan inkuiri sebagai pengajaran dimana guru dan murid mempelajari peristiwa-peristiwa ilmiah dengan pendekatan dan jiwa para ilmuan”
    Hinrichsen juga menambahkan bahwa (1999) inkuiri mengandung dua makna utama yaitu inkuiri sebagai inti dari usaha ilmiah dan inkuiri sebagai strategi untuk belajar mengajar IPA, sebagai strategi mengajar IPA inkuiri merupakan metode yang mengharuskan siswa untuk mengkonstruk sendiri pengetahuannya melalui pertanyaan mereka tentang suatu hal, kemudian merencanakan dan melakukan investigasi untuk menjawab pertanyaan tersebut, melakukan analisis dan mengkomunikasikan hasil penemuan mereka
Menurut kourilsky metode inkuiri merupakan suatu kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Dimana siswa secara berkelompok mencari suatu jawaban atau solusi penyelesaian dari pertanyaan-pertanyaan atau masalah yang diberikan melalui prosedur yang telah digariskan secara jelas dan struktural kelompok.
    Berdasarkan beberapa pendapat para ahli yang telah dikemukakan sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan bahwa metode inkuiri adalah metode yang memberi kesempatan kepada siswa untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran melalui percobaan maupun eksperimen sehingga melatih siswa berkreativitas dan berpikir kritis untuk menemukan sendiri suatu pengetahuan yang pada akhirnya mampu menggunakan pengetahuannya tersebut dalam memecahkan masalah yang dihadapi
b.      Prinsip-prinsip pendekatan Inkuiry
     Dalam penggunaan pembelajaran inkuiri terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan oleh setiap guru, diantaranya :
1)      Berorientasi pada Pengembangan Intelektual.
Tujuan utama dari strategi inkuiri adalah pengembangan kemampuan berpikir. Tidak sebatas penguasaan materi tetapi sejauh mana siswa beraktivitas mencari dan menemukan sesuatu.
2)      Prinsip Interaksi.
Guru tidak menempatkan diri sebagai sumber belajar tetapi sebagai pengatur interaksi agar siswa mengembangkan kemampuan berpikirnya melalui interaksi mereka.
3)      Prinsip Bertanya.
Guru berperan sebagai penanya karena kemampuan siswa untuk menjawab pertanyaan merupakan sebagian dari proses berpikir.
4)      Prinsip Belajar untuk Berpikir.
Belajar bukan sekedar mengingat sejumlah fakta tetapi proses berpikir (learning how to think), yakni proses mengembangkan potensi seluruh otak, baik otak kiri maupun otak kanan, baik otak reptile, otak limbic, maupun otak neokortek.
5)      Prinsip Keterbukaan.
Tugas guru adalah menyediakan ruang untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis yang dianjurkannya.
Gellu menyatakan, bahwa kemampuan yang diperlukan untuk melaksanakan pembelajaran inkuiri adalah sebagai berikut:
1.      Mengajukan pertanyaan atau permasalahan. Kegiatan inkuiri dimulai ketika pertanyaan atau permasalahan diajukan
2.      Merumuskan Hipotesi. Hipotesis adalah jawaban sementara atas pertanyaan untuk solusi permasalahan yang dapat diuji dengan data.
3.       Mengumpulkan Data. Hipotesis digunakan untuk menuntun proses pengumpulan data
4.      Analisis Data. Siswa bertanggung jawab menguji hipotesis yang telah diperoleh
5.      Membuat kesimpulan  Langkah terahir dari pembelajaran inkuiri adalah membuat kesimpulan sementara berdasarkan data yang diperoleh siswa (Gellu dalam Trianto, 2007: 138).
Sedangkan asumsi-asumsi yang mendasari metode inquiri adalah sebagai berikut:
1)      Keterampilan berpikir kritis dan berpikir dedukatif sangat diperlukan pada waktu mengumpulkan evidensi yang dihubungkan dengan hipotesis yang telah dirumuskan oleh kelompok
2)      Keuntungan para siswa dari pengalaman-pengalaman kelompok di mana mereka berkomunikasi, berbagai tanggung jawab dan bersama-sama mencari pengetahuan
3)      Kegiatan-kegiatan belajar yang disajikan dalam semangat berbagi inquri menambah motivasi dan memajukan partisipasi aktif (Hamalik, 2003 : 64)
Syarat-syarat Penerapan Metode Inquiri, Adapun syarat-syarat penerapan metode inquiri adalah :
1)      Merumuskan topik inquiri dengan jelas dan bermanfaat bagi siswa
2)      Membentuk kelompok yang seimbangn, baik akademik maupun sosial
3)      Menjelaskan tugas dan menyediakan balikan kepada kelompok-kelompok dengan cara yang responsif dan tepat waktunya
4)      Sekali-kal perlu intervensi oleh guru agar terjadi interaksi antarpribadi yang sehat dan demi kemajuan tugas
5)      Melaksanakan penilaian terhadap kelompok, baik terhadap kemajuan kelompok maupun terhadap hasil-hasil yang dicapai (Hamalik, 2004 : 65).
Sedangkan menurut pendapat Sudjana (2004 : 155) dalam menerapkan metode inquiri ada beberapa tahapan yaitu:
1)      Perumusan masalah untuk dipecahkan siswa
2)      Menetapkan jawaban sementara atau lebih dikenal dengan istilah hipotesis
3)      Siswa mencari informasi, data, fakta yang diperlukan untuk menjawab permasalahan atau hipotesis.
4)      Menarik kesimpulan jawaban atau generalisasi
5)      Mengaflikasikan kesimpulan/generalissi dalam situasi baru.

c.       Langkah-langkah pembelajaran
    Dalam website inquiry page UIUC (copyright 1998-2004 inquiry page version 1.35) dinyatakan bahwa proses inkuiri dalam pelaksanaan pembelajaran dilakukan melalui 5 tahap seperti disajikan pada gambar 1 berikut :


Gambar diatas menyatakan bahwa tahapan inkuiri terdiri dari 5 tahap yaitu fase bertanya (Ask), fase penyelidikan (investigate), menghasilkan (create), diskusi (discuss), dan refleksi (reflect).
    Setiap langkah dalam proses ini secara alami mendorong munculnya pertanyaan baru, investigasi, dan peluang untuk “teachable moments”. Sintaks proses inkuiri disajikan pada tabel 2.1 berikut :
Tahapan Proses Inkuiri
      Ask
      Berkeinginan untuk menemukan sesuatu. Mulai bertanya tentang apa yang hendak diketahui. (yang menjadi fokus pada tahap ini adalah munculnya pertanyaan atau masalah). Mulai untuk menggambarkan dan menguraikan apa artinya.
      Investigate
      Apa yang dipikirkannya itu diwujudkan dalam tindakan.
      Mulai untuk mengumpulkan informasi, meneliti, mempelajari, bereksperimen, dan mengobservasi (langkah mengumpulkan informasi menjadi suatu proses memotivasi diri yang secara keseluruhan dimiliki oleh siswa yang terlibat).
       Create
     Informasi yang telah didapat, pada tahap ini digabungkan. Siswa mulai membuat hubungan. (kemampuan pada tahap ini adalah untuk mensintesis pemahaman yang merupakan percikan kekreatifan yang membentuk semua pengetahuan baru). Melakukan tugas yang kreatif membentuk pemahaman baru, gagasan, dan teori yang signifikan diluar pengalaman utamanya.
      Discuss
      Mulai berbagi gagasan baru mereka dengan orang lain.  Mulai untuk bertanya pada yang lain tentang investigasi dan pengalaman mereka sendiri. (bertukar pikiran, mendiskusikan kesimpulan, dan berbagai pengalaman merupakan semua contoh tindakan dalam proses ini).
       Reflect
   Menggunakan waktunya untuk melihat kembali permasalahan awal atau permasalahan baru.Pada tahap ini memungkinkan untuk kembali pada tahap 1 dan selanjutnya hingga didapatkan penyelesaian yang lebih berarti.

Langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran inkuiri adalah sebagai berikut:
1)      Mengidentifikasi dan merumuskan masalah, rumusan masalah merupakan arah yang dicapai dalam pembelajaran. Perumusan masalah           harus sesuai dengan materi yang akan diajarkan dalam pembelajaran IPA
2)      Merumuskan Hipotesis : Dilakukan dengan diskusi dan harus sesuai dengan kemampuan siswa.
3)      Mengumpulkan, mengolah dan menganalisis data, siswa tentu harus mencari bukti-buktinya dengan arahan guru dan sumber-sumber harus relevan
4)      Menguji hipotesis : Data yang sudah dianalisis kemudian disimpulkan dengan mengkaji hipotesis yaitu benar atau salah. Bila dianggap hipotesisnya kurang tepat, maka langkah ini dapat digunakan untuk merefisi rumus masalah hipotesis, bila perlu mengulang langkah ketiga.
5)      Merumuskan alternatif-alternatif pemecahan masalah. Apabila rumusan hipotesis sudah jelas, dan kalau sudah terkumpul, siswa dibimbing untuk merumuskan alternatif pemecahan masalah
6)      Menetapkan pemecahan masalah tentu saja dengan bimbingan guru
Dalam penerapannya di bidang pendidikan, ada beberapa jenis metode inkuiri. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Sund and Trowbridge (Mulyasa,2006:109) bahwa
Jenis-jenis metode inkuiri adalah sebagai berikut:
1)      Inkuiri terpimpin (Guide inquiry)
Inkuiri terpimpin digunakan terutama bagi siswa yang belum mempunyai pengalaman belajar dengan metode inkuiri. Dalam hal ini guru memberikan bimbingan dan pengarahan yang cukup luas. Dalam pelaksanaannya, sebagian besar perencanaan dibuat oleh guru dan para siswa tidak merumuskan permasalahan.
2)       Inkuiri bebas (Free inkuiry).
Pada inkuiri bebas siswa melakukan penelitian sendiri bagaikan seorang ilmuwan. Pada pengajaran ini, siswa harus dapat mengidentifikasikan dan merumuskan berbagai topik permasalahan yang hendak diselidiki. Metodenya adalah inquiry role approach yang melibatkan siswa dalam kelompok tertentu, setiap anggota kelmpok tugas memiliki tugas sebagai, misalnya koordinator kelompok, pembimbing teknis, pencatatan data, dan pengevaluasi proses.
3)      Inkuiri bebas yang dimodifikasi (Modified free inquiry)
Pada inkuiri ini guru memberikan permasalahan atau problem dan kemudian siswa diminta untuk memecahkan permasalahan tersebut melalui pengamatan, eksplorasi, dan prosedur penelitian.
d.      Kelebihan dan Kekurangan
Beberapa kelebihan dan kelemahan dari metode inkuiri adalah sebagai berikut  Kelebihan metode inkuiri:
1)      Siswa ikut berpartisipasi secara aktif di dalam kegiatan belajarnya, sebab metode inkuiri menekankan pada proses pengolahan informasi pada peserta didik
2)       Siswa benar-benar dapat memahami suatu konsep dan rumus, sebab siswa menemukan sendiri proses untuk mendapatkan konsep atau rumus tersebut.
3)      Metode ini memungkinkan sikap ilmiah dan menimbulkan semangat ingin tahu para siswa.
4)      Dengan menemukan sendiri siswa merasa sangat puas dengan demikian kepuasan mental sebagai nilai intrinsik siswa terpenuhi.
5)      Guru tetap memiliki kontak pribadi
6)      Penemuan yang diperoleh peserta didik dapat menjadi kepemilikan yang sangat sulit dilupakan.
Kelemahan Metode Inkuiri menurut Fat Hurrahman (2008) adalah:
1)      Persiapan dan pelaksanaannya memakan waktu yang cukup lama.
2)      Metode ini tidak efektif bila tidak ditunjang dengan peralatan yang lengkap sesuai dengan kebutuhan.
3)      Sukar dilaksanakan bila siswa belum matang kemampuan untuk melaksanakannya
        Bruner (Amin, 1987:133), seorang psiklog dari Harvard University di Amerika Serikat menyatakan beberapa keuntungan metode inkuiri sebagai berikut :
1)      Siswa akan memahami konsep-konsep dasar dan ide-ide lebih baik.
2)      Membantu dalam menggunakan daya ingat dan transfer pada situasi-situasi proses belajar yang baru.
3)      Mendorong siswa untuk berpikir inisiatif dan merumuskan hipotesisnya sendiri.
4)      Mendorong siswa untuk berpikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri.
5)      Memberikan kepuasan yang bersifat intrinsic.
6)      Situasi proses belajar menjadi lebih merangsang.
7)      Pengajaran berubah dari “teacher-centered” menjadi “student centered”
8)      Dapat membentuk dan mengembangkan konsep diri (self concept)
9)      Tingkat pengharapan bertambah.
10)  Dapat meningkatkan bakat kemampuan individu.
11)  Dapat menghindarkan siswa dari cara-cara belajar tradisional (menghafal)
12)  Memberikan waktu bagi siswa untuk mengasimilasi dan mengakomodasi informasi.
13)  Menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran lebih bermakna.
14)  Memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.
15)  Sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.
16)  Dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Artinya, siswa yang memiliki kemampuan belajar yang bagus tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.

       Sebagai suatu strategi yang baru, dalam penerapannya Strategi Pembelajaran Inkuiri (SPI) terdapat beberapa kesulitan diantaranya :
1)      SPI merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses berpikir yang berstandarkan dua sayap yang sama penting, yaitu proses belajar dan hasil belajar. Selama ini guru sudah terbiasa dengan pola pembelajaran konvensional yang lebih menekankan pada penyampaian informasi sehingga sulit untuk mengubahnya
2)      Sejak lama tertanam dalam budaya belajar siswa bahwa belajar pada dasarnya adalah menerima materi pelajaran dari guru sehingga bagi mereka guru adalah sumber belajar yang utama. Dengan demikian sulit untuk mengubah cara belajar mereka sebagai proses berpikir. Akibatnya mereka akan mengalami kesulitan manakala diajak memecahkan suatu persoalan, disuruh bertanya dan menjawab pertanyaan.
Berhubungan dengan sistem pendidikan kita yang dianggap tidak konsisten. Sistem pendidikan menganjurkan agar proses pembelajaran lebih mengarahkan pada cara belajar siswa aktif, tetapi sistem evaluasi masih berorientasi pada pengembangan aspek kognitif saja. Dengan demikian guru sebagai pelaksana di lapangan mengalami kebingungan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar