Jumat, 24 Oktober 2014

Perkembangan Filsafat

lecturing by Marsigit, 9/10/2014

            Obyek dari Filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada. Sifat Filsafat ada terbagi menjadi dua yaitu filsafat tetap dan filsafat berubah. Filsafat yang tetap(ADA) itu adalah idea atau dalam pikiran sehingga disebut idealis  yang dikemukan oleh Plato. Sedangkan Filsafat yang berubah(MUNGKIN ADA) adalah realis yang dikemukakan oleh Aristoteles.

            Dalam filsafat aliran idealis merupakan aliran filsafat yang mengandalkan rasio sehingga disebut rasionalisme yang dikemukan oleh Rene Descartes. Contohnya adalah matematika murni. Sedangkan aliran filsafat realis merupakan aliran yang mengandalkan pengalaman atau disebut empirisme yang dikemukakan oleh David Hume. Contohnya adalah matematika kependidikan.

            Filsafat merupakan tempat berpijak bagi kegiatan keilmuan. Oleh sebab itu filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologis yang secara khusus mengkaji ilmu pengetahuan ilimiah. Dasar utama pengetahuan manusia adalah panca indera. Paham ini ditantang oleh kaum rasionalisme yang berpendapat bahwa segala sesuatu tidak tergantung pada pengalaman manusia tentang mereka. Tetapi segala sesuatu harus dilihat sebagaimana adanya tanpa spekulasi atau idealisasi. Karena dalam filsafat sering terjadi perselisihan antara paham rasionalisme dan paham idealisme maka muncullah seorang filusuf baru yaitu Imanuel Kant yang mempertemukan dua pandangan berbeda melalui suatu sintesis, namun masih terasa jelas bahwa dia juga termasuk dalam kelompok rasionalisme.

             Seiring dengan perkembangan dunia dalam bidang teknologi dan theologi maka filsafat pun mengalami perkembangan yang pandangannya adalah power now. Power now adalah paham filsafat saat ini yang perkembangannya sangat pesat karena adanya rasa ingin tahu yang besar yang mengakibatkan munculnya kecanggihan dalam teknologi yaitu tercipta produk –produk baru yang muncul saat ini. Akibat dari teknologi yang begitu canggih,  sedikit demi sedikit spiritualisme mulai bergeser. Power now dikuasai oleh dunia barat, dan dengan power now dunia timur ditaklukkan.


            Sebagai manusia yang hidup dan bersosialisasi di masyarakat kita tidak dapat menolak akibat dari perkembangan power now yaitu munculnya berbagai merek HP dan berkembangnya internet. Namun sebagai manusia yang beriman kepada Tuhan janganlah perkembangan power now membuat spiritul kita menjadi luntur tetapi gunakanlah akibat perkembangan power now untuk menjadikan hidup kita lebih dekat lagi dengan Tuhan. Misalnya dengan HP selain digunakan untuk komunikasi tetapi juga dapat digunakan sebagai sarana untuk mengingatkan kita waktu-waktu beribadah dan juga didalam HP dapat kita mendownloads aplikasi kitab suci sehingga dimanapun kita berada kita dapat membaca kitab suci. Dengan demikian Kita dapat meningkatkan kehidupan spritual kita.

Discovery Learning

1)      Pengertian discovery learning
Strategi discovery learning adalah teori belajar yang didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi bila pelajar tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk finalnya, tetapi diharapkan mengorganisasi sendiri. Sebagaimana pendapat Bruner, bahwa: “Discovery Learning can be defined as the learning that takes place when the student is not presented with subject matter in the final form, but rather is required to organize it him self” (Lefancois dalam Emetembun, 1986:103). Yang menjadikan dasar ide Bruner ialah pendapat dari Piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperan aktif dalam belajar di kelas. Bruner memakai strategi yang disebutnya discovery learning, dimana murid mengorganisasi bahan yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir (Dalyono, 1996:41).
Strategi discovery learning adalah memahami konsep, arti, dan hubungan, melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan (Budiningsih, 2005:43). Discovery terjadi bila individu terlibat, terutama dalam penggunaan proses mentalnya untuk menemukan beberapa konsep dan prinsip. Discovery dilakukan melalaui observasi, klasifikasi, pengukuran, prediksi, penentuan. Proses tersebut disebut cognitive process sedangkan discovery itu sendiri adalah the mental process of assimilatig conceps and principles in the mind (Robert B. Sund dalam Malik, 2001:219).
Sebagai strategi belajar, discovery learning mempunyai prinsip yang sama dengan inkuiri (inquiry) dan problem solving. Tidak ada perbedaan yang prinsipil pada ketiga istilah ini, pada discovery learning lebih menekankan pada ditemukannya konsep atau prinsip yang sebelumnya tidak diketahui. Perbedaannya dengan discovery ialah bahwa pada discovery masalah yang diperhadapkan kepada peserta didik semacam masalah yang direkayasa oleh guru. Sedangkan pada inkuiri masalahnya bukan hasil rekayasa, sehingga peserta didik harus mengerahkan seluruh pikiran dan keterampilannya untuk mendapatkan temuan-temuan di dalam masalah itu melalui proses penelitian, sedangkan problem solving lebih memberi tekanan pada kemampuan menyelesaikan masalah.

2)      Prinsip-prinsip discovery learning
Dalam Konsep Belajar, sesungguhnya strategi discovery learning merupakan pembentukan kategori-kategori atau konsep-konsep, yang dapat memungkinkan terjadinya generalisasi. Sebagaimana teori Bruner tentang kategorisasi yang nampak dalam discovery, bahwa discovery adalah pembentukan kategori-kategori, atau lebih sering disebut sistem-sistem coding. Pembentukan kategori-kategori dan sistem-sistem coding dirumuskan demikian dalam arti relasi-relasi (similaritas & difference) yang terjadi diantara obyek-obyek dan kejadian-kejadian (events).
Bruner memandang bahwa suatu konsep atau kategorisasi memiliki lima unsur, dan peserta didik dikatakan memahami suatu konsep apabila mengetahui semua unsur dari konsep itu(Budiningsih, 2005:43), meliputi:
o   Nama
o   Contoh-contoh baik yang positif maupun yang negatif
o   Karakteristik, baik yang pokok maupun tidak
o   Rentangan karakteristik
o   Kaidah
Bruner menjelaskan bahwa pembentukan konsep merupakan dua kegiatan mengkategori yang berbeda yang menuntut proses berfikir yang berbeda pula. Seluruh kegiatan mengkategori meliputi mengidentifikasi dan menempatkan contoh-contoh (obyek-obyek atau peristiwa-peristiwa) ke dalam kelas dengan menggunakan dasar kriteria tertentu. Di dalam proses belajar, Bruner mementingkan partisipasi aktif dari tiap peserta didik, dan mengenal dengan baik adanya perbedaan kemampuan. Untuk menunjang proses belajar perlu lingkungan memfasilitasi rasa ingin tahu peserta didik pada tahap eksplorasi. Lingkungan ini dinamakan discovery learning environment, yaitu lingkungan dimana peserta didik dapat melakukan eksplorasi, penemuan-penemuan baru yang belum dikenal atau pengertian yang mirip dengan yang sudah diketahui. Lingkungan seperti ini bertujuan agar peserta didik dalam proses belajar dapat berjalan dengan baik dan lebih kreatif.
Menurtt Bruner perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan oleh bagaimana cara lingkungan, yaitu: enactiv, iconic, dan symbolic. Tahap enaktiv, seseorang melakukan aktivitas-aktivitas dalam upaya untuk memahami lingkungan sekitarnya, artinya, dalam memahami dunia sekitarnya anak menggunakan pengetahuan motorik, misalnya melalui gigitan, sentuhan, pegangan, dan sebagainya. Tahap iconic, seseorang memahami objek-objek atau dunianya melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal. Maksudnya, dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui bentuk perumpamaan (tampil) dan perbandingan (komparasi). Tahap symbolic, seseorang telah mampu memiliki ide-ide atau gagasan-gagasan abstrak yang sangat dipengaruhi oleh kemampuannya dalam berbahasa dan logika. Dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui simbol-simbol bahasa, logika, matematika, dan sebagainya.
Pada akhirnya yang menjadi tujuan dalam strategi discovery learning menurut Bruner adalah hendaklah guru memberikan kesempatan kepada muridnya untuk menjadi seorang problem solver, seorang scientist, historin, atau ahli matematika. Dan melalui kegiatan tersebut peserta didik akan menguasainya, menerapkan, serta menemukan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya. Karakteristik yang paling jelas mengenai discovery sebagai strategi mengajar ialah bahwa sesudah tingkat-tingkat inisial (pemulaan) mengajar, bimbingan guru hendaklah lebih berkurang dari pada strategi-strategi mengajar lainnya. Hal ini tak berarti bahwa guru menghentikan untuk memberikan suatu bimbingan setelah problema disajikan kepada pelajar. Tetapi bimbingan yang diberikan tidak hanya dikurangi direktifnya melainkan pelajar diberi responsibilitas yang lebih besar untuk belajar sendiri.

3)      Langkah-langkah pendekatan discovery learning
Langkah-langkah Operasional Implementasi dalam Proses Pembelajaran Discovery Learning meliputi :
a)      Langkah Persiapan Strategi Discovery Learning
o   Menentukan tujuan pembelajaran
o   Melakukan identifikasi karakteristik peserta didik (kemampuan awal, minat, gaya belajar, dan sebagainya)
o   Memilih materi pelajaran. d. Menentukan topik-topik yang harus dipelajari peserta didik secara induktif (dari contoh-contoh generalisasi)
o   Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh, ilustrasi, tugas dan sebagainya untuk dipelajari peserta didik
o   Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari yang konkret ke abstrak, atau dari tahap enaktif, ikonik sampai ke simbolik
o   Melakukan penilaian proses dan hasil belajar peserta didik
b)     Prosedur Aplikasi Strategi Discovery Learning Menurut Syah (2004:244) dalam mengaplikasikan strategi discovery learning di kelas, ada beberapa prosedur yang harus dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar secara umum sebagai berikut
o   Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan) Pertama-tama pada tahap ini pelajar dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungannya, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi, agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri. Disamping itu guru dapat memulai kegiatan PBM dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah. Stimulasi pada tahap ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan membantu peserta didik dalam mengeksplorasi bahan
o   Problem statement (pernyataan/ identifikasi masalah) Setelah dilakukan stimulation langkah selanjutya adalah guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah) (Syah 2004:244). Memberikan kesempatan peserta didik untuk mengidentifikasi dan menganalisa permasalahan yang mereka hadapi, merupakan teknik yang berguna dalam membangun peserta didik agar mereka terbiasa untuk menemukan suatu masalah
o   Data collection (pengumpulan data). Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada para peserta didik untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis (Syah, 2004:244). Pada tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis, dengan demikian anak didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan (collection) berbagai informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati objek, wawancara dengan nara sumber, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya. Konsekuensi dari tahap ini adalah peserta didik belajar secara aktif untuk menemukan sesuatu yang berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi, dengan demikian secara tidak disengaja peserta didik menghubungkan masalah dengan pengetahuan yang telah dimiliki.
o   Data processing (pengolahan data) Menurut Syah (2004:244) pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi yang telah diperoleh para peserta didik baik melalui wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan, dan semuanya diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu (Djamarah, 2002:22). Data processing disebut juga dengan pengkodean coding/kategorisasi yang berfungsi sebagai pembentukan konsep dan generalisasi. Dari generalisasi tersebut peserta didik akan mendapatkan pengetahuan baru tentang alternatif jawaban/ penyelesaian yang perlu mendapat pembuktian secara logis.
o   Verification (pembuktian) Pada tahap ini peserta didik melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil data processing (Syah, 2004:244). Berdasarkan hasil pengolahan dan tafsiran, atau informasi yang ada, pernyataan atau hipotesis yang telah dirumuskan terdahulu itu kemudian dicek, apakah terjawab atau tidak, apakah terbukti atau tidak.
o   Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi) Tahap generalisasi/menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi (Syah, 2004:244). Berdasarkan hasil verifikasi maka dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi. Setelah menarik kesimpulan peserta didik harus memperhatikan proses generalisasi yang menekankan pentingnya penguasaan pelajaran atas makna dan kaidah atau prinsip-prinsip yang luas yang mendasari pengalaman seseorang, serta pentingnya proses pengaturan dan generalisasi dari pengalaman-pengalaman itu.

4)      Kelebihan dan kekurangan pendekatan discovery learning
Kelebihan Penerapan Discovery Learning  khususnya bagi peserta didik adalah sebagai berikut:
o   Membantu peserta didik untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan-keterampilan dan proses-proses kognitif. Usaha penemuan merupakan kunci dalam proses ini, seseorang tergantung bagaimana cara belajarnya.
o   Pengetahuan yang diperoleh melalui strategi ini sangat pribadi dan ampuh karena menguatkan pengertian, ingatan dan transfer.
o   Menimbulkan rasa senang pada peserta didik, karena tumbuhnya rasa menyelidiki dan berhasil.
o   Strategi ini memungkinkan peserta didik berkembang dengan cepat dan sesuai dengan kecepatannya sendiri.
o   Menyebabkan peserta didik mengarahkan kegiatan belajarnya sendiri dengan melibatkan akalnya dan motivasi sendiri.
o   Strategi ini dapat membantu peserta didik memperkuat konsep dirinya, karena memperoleh kepercayaan bekerja sama dengan yang lainnya.
o   Berpusat pada peserta didik dan guru berperan sama-sama aktif mengeluarkan gagasan-gagasan. Bahkan gurupun dapat bertindak sebagai peserta didik, dan sebagai peneliti di dalam situasi diskusi.
o   Membantu peserta didik menghilangkan skeptisme (keragu-raguan) karena mengarah pada kebenaran yang final dan tertentu atau pasti.
o   Peserta didik akan mengerti konsep dasar dan ide-ide lebih baik;
o   Membantu dan mengembangkan ingatan dan transfer kepada situasi proses belajar yang baru;
o   Mendorong peserta didik berfikir dan bekerja atas inisiatif sendiri;
o   Mendorong peserta didik berfikir intuisi dan merumuskan hipotesis sendiri;
o   Memberikan keputusan yang bersifat intrinsik;
o   Situasi proses belajar menjadi lebih terangsang;
o   Proses belajar meliputi sesama aspeknya peserta didik menuju pada pembentukan manusia seutuhnya;
o   Meningkatkan tingkat penghargaan pada peserta didik;
o   Kemungkinan peserta didik belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar;
o   Dapat mengembangkan bakat dan kecakapan individu
Sedangkan kekurangan dari penerapan pendekatan discovery learning adalah sebagai berikut:
o   Metode ini menimbulkan asumsi bahwa ada kesiapan pikiran untuk belajar. Bagi siswa yang jurang pandai, akan mengalami kesulitan abstrak atau berfikir atau mengungkapkan hubungan antara konsep-konsep yang tertulis atau lisannsehigga pada gilirannya akan menimbulkan frustasi.
o   Metode ini tidak efisien untuk mengajar jumlah siswa yang banyak, karena membutuhkan waktu yang lamma untuk membantu mereka enemuikan teori atau pemecahan masalah lainnya.
o   Harapan-harapan yang terkandung dalam metode ini dapat buyar berhadapan dengan siswa dan guru yang telah terbiasa dengan cara-cara belajar lama.
o   Pengajaran discovery lebih cocok untuk mengembangkan pemahaman, sedangkan mengembangkan aspek konsep, keterampilan dan emosi secara keseluruhan kurang  mendapat perhatian.
o   Pada beberapa disiplin ilmu, misalnya IPA kurang fasilitas untuk mengukur gagasan yang dikemukakan oleh para siswa.

o   Tidak menyediakan kesempatan-kesempatan untuk berfikir yang akan ditemukan oleh siswa karena dipilih terlebih dahulu oleh siswa.

Ruang dan Waktu Filsafat

Terinsfirasi oleh perkuliahan filsafat ilmu dari Prof. Marsigit, M.A
Hari rabu, 2 oktober 2014

 Mamfaat bertanya kepada orang lain yakni sebagai silahturami,untuk  mengerti pikiran orang, serta memicu pemahaman orang lain. Menghilangkan ego dengan dengan memberi pertanyaan untuk memperlihatkan bahwa kita belum mengerti apa-apa. Mempelajari sesuatu harus dengan ikhlas.

Masalah muncul karena aku tidak sama dengan aku. Dunia terikat oleh ruang dan waktu. Hubungan antara subyek dan predikat. Semua yang ada didunia tidak akan pernah mencapai subyek sama dengan subyek. Predikat selalu termuat dalam subyeknya. Predikat merupakan sifat, sifat dari subyek dan sifat dari obyek serta sifat dari pada sifat. Sifat bersifat implisit dan eksplisit. Subyek yang tidak sama dengan subyek itulah sebagai masalah, namun hidup ada karena adanya masalah. Sebenar-benarnya hidup adalah masalah itu sendiri. Karena itu semua harus sesuai dengan ruang dan waktunya.

Dunia berdimensi dan berstruktur. Formal merupakan bentuk resmi, atau aturan, sedangkan normatif merupakan filsafat. Ruang dari filsafat yakni material, normatif, formal dan spritual. Ibadah dari segi normatif yakni bagaimana filsafat kita tentang ibadah, formal dari ibadah yakni kitab-kitab sedangkan materialnya yakni rumah ibadah. Filsafat adalah etik dan estetika. Segala sesuatu menembus ruang dan waktu. Sebenar-benarnya hidup adalah menembus ruang dan waktu.

Bahagia adalah etik dan estetika.  Budaya timur ruangnya adalah mencapai kesempurnaan dalam spritual. Budaya barat mencari Tuhan hanya dalam pikirannya. Bahagia diperoleh jika harmoni ruang dan waktunya. Harmoni adalah keselarasan antara setiap elemen.

Intuisi adalah tingkatan dari insting. Intuisi ruang dan waktu adalah intusi yang terbaik. Insting merupakan bawaan dan memiliki keterbatasan. Intuisi lahir dalam pergaulan dan pengalaman.
Suatu ilmu spritual merupakan pengalaman pribadi yang hanya digunakan untuk diri sendiri, adapun kalau memiliki mamfaat bagi orang lain maka itu merupakan hak bagi setiap insan untuk menerima atau tidak. Pengetahuan itu harus sesuai dengan ruang dan waktunya. Doa merupakan hal pribadi setiap individu, dan tidaklah dipikirkan.



Rabu, 22 Oktober 2014

Inkuri

a.      Pengertian Metode Inquiry
Secara itimologi inkuiri berasal dari kata to inquire yang berarti ikut serta, atau terlibat, dalam mengajuhkan pertanyaan-pertanyaan, mencari informasi, dan melakukan penyelidikan.
Piaget memberikan definisi pendekatan  Inquiry sebagai pendidikan yang mempersiapkan situasi bagi siswa untuk melakukan eksperimen sendiri. Mengajukan pertayaan-pertayaan dan mencari sendiri jawaban atas pertayaan yang mereka ajukan (Piaget dalam Sofan dan Iif, 2010: 103).
Metode inkuiri yang didefinisikan sebagai suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, dan analisis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuan dengan penuh percaya diri (M. Gellu dalam Sofan dan Lif, 2010: 103).
Metode inkuiri adalah cara penyajian pelajaran yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menemukan informasi dengan atau tanpa bantuan guru (Mulyani Sumantri, 1999: 164).
Inqury  dalam  bahasa  Indonesia  berarti  penemuan.  Menurut  Sund  (dalam Suryobroto, 2002:193) dinyatakan bahwa metode penemuan adalah proses mental dimana siswa  mengasimilasikan sesuatu konsep atau sesuatu prinsip. Proses mental  tersebut   misalnya:  mengamati,  menggolong -golongkan,  membuat dugaan,  menjelaskan,  mengukur,  membuat  kesimpulan,  dan  sebagainya.   Yang dimaksud  konsep  misalnya:  segitiga,  demokrasi,  panas,  energi,  dan  sebagainya.
Sedangkan prinsip misalnya: logam apabila dipanasi mengembang, lingkungan berpengaruh terhadap kehidupan organisme, dan sebagainya.
    Kuslan dan Stone (Dahar dan Liliasari 1986, dalam Iskandar, 1996/1997:68) mendefinisikan “pendekatan inkuiri sebagai pengajaran dimana guru dan murid mempelajari peristiwa-peristiwa ilmiah dengan pendekatan dan jiwa para ilmuan”
    Hinrichsen juga menambahkan bahwa (1999) inkuiri mengandung dua makna utama yaitu inkuiri sebagai inti dari usaha ilmiah dan inkuiri sebagai strategi untuk belajar mengajar IPA, sebagai strategi mengajar IPA inkuiri merupakan metode yang mengharuskan siswa untuk mengkonstruk sendiri pengetahuannya melalui pertanyaan mereka tentang suatu hal, kemudian merencanakan dan melakukan investigasi untuk menjawab pertanyaan tersebut, melakukan analisis dan mengkomunikasikan hasil penemuan mereka
Menurut kourilsky metode inkuiri merupakan suatu kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Dimana siswa secara berkelompok mencari suatu jawaban atau solusi penyelesaian dari pertanyaan-pertanyaan atau masalah yang diberikan melalui prosedur yang telah digariskan secara jelas dan struktural kelompok.
    Berdasarkan beberapa pendapat para ahli yang telah dikemukakan sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan bahwa metode inkuiri adalah metode yang memberi kesempatan kepada siswa untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran melalui percobaan maupun eksperimen sehingga melatih siswa berkreativitas dan berpikir kritis untuk menemukan sendiri suatu pengetahuan yang pada akhirnya mampu menggunakan pengetahuannya tersebut dalam memecahkan masalah yang dihadapi
b.      Prinsip-prinsip pendekatan Inkuiry
     Dalam penggunaan pembelajaran inkuiri terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan oleh setiap guru, diantaranya :
1)      Berorientasi pada Pengembangan Intelektual.
Tujuan utama dari strategi inkuiri adalah pengembangan kemampuan berpikir. Tidak sebatas penguasaan materi tetapi sejauh mana siswa beraktivitas mencari dan menemukan sesuatu.
2)      Prinsip Interaksi.
Guru tidak menempatkan diri sebagai sumber belajar tetapi sebagai pengatur interaksi agar siswa mengembangkan kemampuan berpikirnya melalui interaksi mereka.
3)      Prinsip Bertanya.
Guru berperan sebagai penanya karena kemampuan siswa untuk menjawab pertanyaan merupakan sebagian dari proses berpikir.
4)      Prinsip Belajar untuk Berpikir.
Belajar bukan sekedar mengingat sejumlah fakta tetapi proses berpikir (learning how to think), yakni proses mengembangkan potensi seluruh otak, baik otak kiri maupun otak kanan, baik otak reptile, otak limbic, maupun otak neokortek.
5)      Prinsip Keterbukaan.
Tugas guru adalah menyediakan ruang untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis yang dianjurkannya.
Gellu menyatakan, bahwa kemampuan yang diperlukan untuk melaksanakan pembelajaran inkuiri adalah sebagai berikut:
1.      Mengajukan pertanyaan atau permasalahan. Kegiatan inkuiri dimulai ketika pertanyaan atau permasalahan diajukan
2.      Merumuskan Hipotesi. Hipotesis adalah jawaban sementara atas pertanyaan untuk solusi permasalahan yang dapat diuji dengan data.
3.       Mengumpulkan Data. Hipotesis digunakan untuk menuntun proses pengumpulan data
4.      Analisis Data. Siswa bertanggung jawab menguji hipotesis yang telah diperoleh
5.      Membuat kesimpulan  Langkah terahir dari pembelajaran inkuiri adalah membuat kesimpulan sementara berdasarkan data yang diperoleh siswa (Gellu dalam Trianto, 2007: 138).
Sedangkan asumsi-asumsi yang mendasari metode inquiri adalah sebagai berikut:
1)      Keterampilan berpikir kritis dan berpikir dedukatif sangat diperlukan pada waktu mengumpulkan evidensi yang dihubungkan dengan hipotesis yang telah dirumuskan oleh kelompok
2)      Keuntungan para siswa dari pengalaman-pengalaman kelompok di mana mereka berkomunikasi, berbagai tanggung jawab dan bersama-sama mencari pengetahuan
3)      Kegiatan-kegiatan belajar yang disajikan dalam semangat berbagi inquri menambah motivasi dan memajukan partisipasi aktif (Hamalik, 2003 : 64)
Syarat-syarat Penerapan Metode Inquiri, Adapun syarat-syarat penerapan metode inquiri adalah :
1)      Merumuskan topik inquiri dengan jelas dan bermanfaat bagi siswa
2)      Membentuk kelompok yang seimbangn, baik akademik maupun sosial
3)      Menjelaskan tugas dan menyediakan balikan kepada kelompok-kelompok dengan cara yang responsif dan tepat waktunya
4)      Sekali-kal perlu intervensi oleh guru agar terjadi interaksi antarpribadi yang sehat dan demi kemajuan tugas
5)      Melaksanakan penilaian terhadap kelompok, baik terhadap kemajuan kelompok maupun terhadap hasil-hasil yang dicapai (Hamalik, 2004 : 65).
Sedangkan menurut pendapat Sudjana (2004 : 155) dalam menerapkan metode inquiri ada beberapa tahapan yaitu:
1)      Perumusan masalah untuk dipecahkan siswa
2)      Menetapkan jawaban sementara atau lebih dikenal dengan istilah hipotesis
3)      Siswa mencari informasi, data, fakta yang diperlukan untuk menjawab permasalahan atau hipotesis.
4)      Menarik kesimpulan jawaban atau generalisasi
5)      Mengaflikasikan kesimpulan/generalissi dalam situasi baru.

c.       Langkah-langkah pembelajaran
    Dalam website inquiry page UIUC (copyright 1998-2004 inquiry page version 1.35) dinyatakan bahwa proses inkuiri dalam pelaksanaan pembelajaran dilakukan melalui 5 tahap seperti disajikan pada gambar 1 berikut :


Gambar diatas menyatakan bahwa tahapan inkuiri terdiri dari 5 tahap yaitu fase bertanya (Ask), fase penyelidikan (investigate), menghasilkan (create), diskusi (discuss), dan refleksi (reflect).
    Setiap langkah dalam proses ini secara alami mendorong munculnya pertanyaan baru, investigasi, dan peluang untuk “teachable moments”. Sintaks proses inkuiri disajikan pada tabel 2.1 berikut :
Tahapan Proses Inkuiri
      Ask
      Berkeinginan untuk menemukan sesuatu. Mulai bertanya tentang apa yang hendak diketahui. (yang menjadi fokus pada tahap ini adalah munculnya pertanyaan atau masalah). Mulai untuk menggambarkan dan menguraikan apa artinya.
      Investigate
      Apa yang dipikirkannya itu diwujudkan dalam tindakan.
      Mulai untuk mengumpulkan informasi, meneliti, mempelajari, bereksperimen, dan mengobservasi (langkah mengumpulkan informasi menjadi suatu proses memotivasi diri yang secara keseluruhan dimiliki oleh siswa yang terlibat).
       Create
     Informasi yang telah didapat, pada tahap ini digabungkan. Siswa mulai membuat hubungan. (kemampuan pada tahap ini adalah untuk mensintesis pemahaman yang merupakan percikan kekreatifan yang membentuk semua pengetahuan baru). Melakukan tugas yang kreatif membentuk pemahaman baru, gagasan, dan teori yang signifikan diluar pengalaman utamanya.
      Discuss
      Mulai berbagi gagasan baru mereka dengan orang lain.  Mulai untuk bertanya pada yang lain tentang investigasi dan pengalaman mereka sendiri. (bertukar pikiran, mendiskusikan kesimpulan, dan berbagai pengalaman merupakan semua contoh tindakan dalam proses ini).
       Reflect
   Menggunakan waktunya untuk melihat kembali permasalahan awal atau permasalahan baru.Pada tahap ini memungkinkan untuk kembali pada tahap 1 dan selanjutnya hingga didapatkan penyelesaian yang lebih berarti.

Langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran inkuiri adalah sebagai berikut:
1)      Mengidentifikasi dan merumuskan masalah, rumusan masalah merupakan arah yang dicapai dalam pembelajaran. Perumusan masalah           harus sesuai dengan materi yang akan diajarkan dalam pembelajaran IPA
2)      Merumuskan Hipotesis : Dilakukan dengan diskusi dan harus sesuai dengan kemampuan siswa.
3)      Mengumpulkan, mengolah dan menganalisis data, siswa tentu harus mencari bukti-buktinya dengan arahan guru dan sumber-sumber harus relevan
4)      Menguji hipotesis : Data yang sudah dianalisis kemudian disimpulkan dengan mengkaji hipotesis yaitu benar atau salah. Bila dianggap hipotesisnya kurang tepat, maka langkah ini dapat digunakan untuk merefisi rumus masalah hipotesis, bila perlu mengulang langkah ketiga.
5)      Merumuskan alternatif-alternatif pemecahan masalah. Apabila rumusan hipotesis sudah jelas, dan kalau sudah terkumpul, siswa dibimbing untuk merumuskan alternatif pemecahan masalah
6)      Menetapkan pemecahan masalah tentu saja dengan bimbingan guru
Dalam penerapannya di bidang pendidikan, ada beberapa jenis metode inkuiri. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Sund and Trowbridge (Mulyasa,2006:109) bahwa
Jenis-jenis metode inkuiri adalah sebagai berikut:
1)      Inkuiri terpimpin (Guide inquiry)
Inkuiri terpimpin digunakan terutama bagi siswa yang belum mempunyai pengalaman belajar dengan metode inkuiri. Dalam hal ini guru memberikan bimbingan dan pengarahan yang cukup luas. Dalam pelaksanaannya, sebagian besar perencanaan dibuat oleh guru dan para siswa tidak merumuskan permasalahan.
2)       Inkuiri bebas (Free inkuiry).
Pada inkuiri bebas siswa melakukan penelitian sendiri bagaikan seorang ilmuwan. Pada pengajaran ini, siswa harus dapat mengidentifikasikan dan merumuskan berbagai topik permasalahan yang hendak diselidiki. Metodenya adalah inquiry role approach yang melibatkan siswa dalam kelompok tertentu, setiap anggota kelmpok tugas memiliki tugas sebagai, misalnya koordinator kelompok, pembimbing teknis, pencatatan data, dan pengevaluasi proses.
3)      Inkuiri bebas yang dimodifikasi (Modified free inquiry)
Pada inkuiri ini guru memberikan permasalahan atau problem dan kemudian siswa diminta untuk memecahkan permasalahan tersebut melalui pengamatan, eksplorasi, dan prosedur penelitian.
d.      Kelebihan dan Kekurangan
Beberapa kelebihan dan kelemahan dari metode inkuiri adalah sebagai berikut  Kelebihan metode inkuiri:
1)      Siswa ikut berpartisipasi secara aktif di dalam kegiatan belajarnya, sebab metode inkuiri menekankan pada proses pengolahan informasi pada peserta didik
2)       Siswa benar-benar dapat memahami suatu konsep dan rumus, sebab siswa menemukan sendiri proses untuk mendapatkan konsep atau rumus tersebut.
3)      Metode ini memungkinkan sikap ilmiah dan menimbulkan semangat ingin tahu para siswa.
4)      Dengan menemukan sendiri siswa merasa sangat puas dengan demikian kepuasan mental sebagai nilai intrinsik siswa terpenuhi.
5)      Guru tetap memiliki kontak pribadi
6)      Penemuan yang diperoleh peserta didik dapat menjadi kepemilikan yang sangat sulit dilupakan.
Kelemahan Metode Inkuiri menurut Fat Hurrahman (2008) adalah:
1)      Persiapan dan pelaksanaannya memakan waktu yang cukup lama.
2)      Metode ini tidak efektif bila tidak ditunjang dengan peralatan yang lengkap sesuai dengan kebutuhan.
3)      Sukar dilaksanakan bila siswa belum matang kemampuan untuk melaksanakannya
        Bruner (Amin, 1987:133), seorang psiklog dari Harvard University di Amerika Serikat menyatakan beberapa keuntungan metode inkuiri sebagai berikut :
1)      Siswa akan memahami konsep-konsep dasar dan ide-ide lebih baik.
2)      Membantu dalam menggunakan daya ingat dan transfer pada situasi-situasi proses belajar yang baru.
3)      Mendorong siswa untuk berpikir inisiatif dan merumuskan hipotesisnya sendiri.
4)      Mendorong siswa untuk berpikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri.
5)      Memberikan kepuasan yang bersifat intrinsic.
6)      Situasi proses belajar menjadi lebih merangsang.
7)      Pengajaran berubah dari “teacher-centered” menjadi “student centered”
8)      Dapat membentuk dan mengembangkan konsep diri (self concept)
9)      Tingkat pengharapan bertambah.
10)  Dapat meningkatkan bakat kemampuan individu.
11)  Dapat menghindarkan siswa dari cara-cara belajar tradisional (menghafal)
12)  Memberikan waktu bagi siswa untuk mengasimilasi dan mengakomodasi informasi.
13)  Menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran lebih bermakna.
14)  Memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.
15)  Sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.
16)  Dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Artinya, siswa yang memiliki kemampuan belajar yang bagus tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.

       Sebagai suatu strategi yang baru, dalam penerapannya Strategi Pembelajaran Inkuiri (SPI) terdapat beberapa kesulitan diantaranya :
1)      SPI merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses berpikir yang berstandarkan dua sayap yang sama penting, yaitu proses belajar dan hasil belajar. Selama ini guru sudah terbiasa dengan pola pembelajaran konvensional yang lebih menekankan pada penyampaian informasi sehingga sulit untuk mengubahnya
2)      Sejak lama tertanam dalam budaya belajar siswa bahwa belajar pada dasarnya adalah menerima materi pelajaran dari guru sehingga bagi mereka guru adalah sumber belajar yang utama. Dengan demikian sulit untuk mengubah cara belajar mereka sebagai proses berpikir. Akibatnya mereka akan mengalami kesulitan manakala diajak memecahkan suatu persoalan, disuruh bertanya dan menjawab pertanyaan.
Berhubungan dengan sistem pendidikan kita yang dianggap tidak konsisten. Sistem pendidikan menganjurkan agar proses pembelajaran lebih mengarahkan pada cara belajar siswa aktif, tetapi sistem evaluasi masih berorientasi pada pengembangan aspek kognitif saja. Dengan demikian guru sebagai pelaksana di lapangan mengalami kebingungan.